SAMARINDA – Di tengah arus transformasi digital yang kian deras, Anggota Komisi I DPRD Kota Samarinda, Sani, menghadirkan sebuah terobosan yang memadukan teknologi dengan semangat pelayanan publik.
Melalui aplikasi bertajuk “Sani Mendengar”, ia membuka ruang dialog yang lebih luas, cepat, dan inklusif bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi serta keluhan secara langsung.
Berbeda dari pola konvensional yang bergantung pada masa reses, aplikasi ini dirancang sebagai kanal komunikasi tanpa jeda. Layanan tersebut beroperasi penuh selama 24 jam setiap hari sepanjang tahun, memberikan keleluasaan bagi warga untuk menyuarakan berbagai persoalan kapan pun dibutuhkan.
“Aplikasi itu terbuka tujuh hari 24 jam selama setahun penuh, bukan hanya saat masa reses,” ujar Sani, menegaskan komitmennya terhadap aksesibilitas pelayanan publik.
Melalui platform ini, masyarakat dapat mengirimkan laporan secara komprehensif, dilengkapi identitas, alamat, nomor telepon, hingga titik lokasi permasalahan. Setiap laporan yang masuk akan diterima melalui sistem terintegrasi yang dipantau secara berkala, memastikan tidak ada aspirasi yang terabaikan.
Bagi Sani, pemanfaatan teknologi bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan mendesak dalam menjembatani komunikasi antara wakil rakyat dan konstituennya. Ia menilai pendekatan pelayanan harus beradaptasi dengan gaya hidup masyarakat modern yang serba cepat dan berbasis digital.
“Sekarang zamannya teknologi dan handphone. Jadi masyarakat bisa langsung melaporkan keluhannya melalui aplikasi,” tuturnya.
Ia mencontohkan, laporan sederhana seperti jalan berlubang kini dapat segera diteruskan kepada instansi terkait untuk ditindaklanjuti. Tak hanya itu, masyarakat juga diberi akses untuk memantau progres penanganan laporan mereka, menciptakan transparansi yang lebih nyata dalam proses pelayanan publik.
Inovasi ini sekaligus menjadi refleksi keterbukaan Sani dalam menerima kritik dan aspirasi secara langsung. Menariknya, aplikasi tersebut lahir dari inisiatif pribadi, hasil dari proses belajar mandiri dalam mengembangkan sistem berbasis web. Keputusan untuk membangun aplikasi sendiri diambil setelah mempertimbangkan tingginya biaya pengembangan profesional.
“Saya belajar sendiri sampai akhirnya bisa membuat aplikasi itu. Tujuannya supaya masyarakat lebih mudah menyampaikan aspirasi,” ungkapnya.
Kini, “Sani Mendengar” telah tersedia di Google Play Store dan siap diunduh oleh masyarakat, khususnya di daerah pemilihannya. Lebih dari sekadar aplikasi, inovasi ini menjadi simbol hadirnya wajah baru pelayanan publik, yang lebih responsif, transparan, dan berorientasi pada kebutuhan nyata masyarakat.
(Fran/ADV)











