SAMARINDA – Bulan Juni selalu punya gema tersendiri dalam sejarah Indonesia. Di Samarinda, gaung itu kini diterjemahkan dengan cara yang lebih segar, bukan lewat podium panjang, melainkan lewat video singkat berdurasi 90 detik.
Anggota DPRD Kalimantan Timur dari Fraksi PDI Perjuangan, Sugiyono, resmi meluncurkan “Creative Competition: JuniBulanBungKarno”, sebuah ajang kreatif yang menantang generasi muda meramu ulang semangat Bung Karno dalam bahasa zaman: visual, cepat, dan penuh makna.
Mengusung tema “Refleksi Nilai-Nilai Pengabdian atau Dedication of Life”, kompetisi ini tidak sekadar lomba konten, melainkan ruang tafsir baru, tentang bagaimana ide besar sang Proklamator hidup di tengah realitas anak muda hari ini.
Sugiyono menegaskan, pendekatan ini sengaja dipilih untuk menjembatani jarak antara sejarah dan generasi digital.
“Kita ingin Bung Karno tidak hanya hadir di buku pelajaran, tetapi hidup dalam cara berpikir dan bertindak anak muda. ‘Dedication of Life’ itu tentang pengabdian yang melampaui diri sendiri. Saya ingin melihat bagaimana itu diterjemahkan untuk Samarinda hari ini,” ujarnya, Senin (8/6/2026).
Lewat platform seperti Instagram dan TikTok, peserta diberi kebebasan mengekspresikan gagasan, baik secara visual, naratif, maupun performatif, selama tetap berpijak pada nilai perjuangan Bung Karno.
Menariknya, kompetisi ini juga dirancang bukan sekadar ajang unjuk kreativitas, tetapi sebagai kanal aspirasi. Sugiyono ingin mendengar langsung suara generasi muda, tentang keresahan, harapan, hingga kritik terhadap arah pembangunan di Samarinda.
“Kreativitas tanpa nasionalisme bisa kehilangan arah. Sebaliknya, nasionalisme tanpa kreativitas akan terasa kaku. Di sinilah kita mencoba mempertemukan keduanya,”katanya.
Pendaftaran dan pengunggahan karya dibuka pada 8 hingga 20 Juni 2026. Karya terbaik tak hanya mendapat apresiasi, tetapi juga peluang kolaborasi langsung bersama Sugiyono, membawa ide dari layar media sosial ke ruang-ruang kebijakan.
Di tengah derasnya arus digital, kompetisi ini menjadi pengingat: bahwa semangat Bung Karno tak harus selalu hadir dalam pidato panjang. Ia bisa hidup dalam 90 detik, selama ada keberanian untuk berpikir, berkarya, dan mengabdi.
“Saya ingin melihat bukti bahwa semangat Bung Karno masih menyala di Benua Etam,” pungkas Sugiyono.
(*)











