SAMARINDA – Semangat kemandirian ekonomi berbasis komunitas kembali menemukan momentumnya. Wakil Ketua DPRD Kota Samarinda, Celni Pita Sari, menaruh optimisme besar terhadap kehadiran program Koperasi Merah Putih yang digagas Presiden RI, Prabowo Subianto. Inisiatif ini dipandang sebagai langkah strategis untuk menata ulang denyut perekonomian masyarakat hingga ke level paling dasar, yakni kelurahan.
Dari Harapan Baru, sebuah kawasan yang kini menjadi salah satu titik awal implementasi program tersebut, Celni mengikuti peresmian Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih secara serentak melalui sambungan daring, Sabtu (16/5/2026). Baginya, program ini bukan sekadar simbol kebijakan, melainkan instrumen konkret untuk menghadirkan keadilan ekonomi yang lebih merata.
Dukungan pemerintah daerah pun mengalir seiring dengan progres yang mulai terlihat di lapangan. Dari total 59 kelurahan di Kota Tepian, sebagian telah memasuki fase kesiapan, sementara lainnya masih dalam tahap pembangunan yang terus dikebut.
Beberapa unit bahkan telah rampung dan mulai diperkenalkan kepada publik sebagai embrio penggerak ekonomi lokal.
Celni melihat koperasi ini sebagai ruang baru yang bukan hanya menyediakan kebutuhan pokok dengan harga yang lebih bersahabat, tetapi juga menghadirkan layanan yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat. Di dalamnya, konsep koperasi diperluas menjadi pusat aktivitas ekonomi dan sosial, mulai dari penyediaan sembako terjangkau hingga layanan kesehatan sederhana.
Lebih jauh, ia menekankan pentingnya menjadikan koperasi sebagai jembatan antara produsen lokal dan konsumen. Keterlibatan petani di Samarinda dan wilayah sekitarnya menjadi kunci agar hasil produksi mereka tidak hanya terserap optimal, tetapi juga memiliki nilai jual yang layak.
Dalam skema ini, keseimbangan harga menjadi perhatian utama, memberi keuntungan bagi petani tanpa membebani masyarakat.
“Ekosistem ini harus adil. Petani mendapatkan harga yang pantas, sementara masyarakat tetap bisa membeli dengan harga terjangkau,” menjadi garis besar pandangan yang ia tekankan.
Tak kalah penting, aspek sumber daya manusia juga menjadi sorotan. Celni berharap pengelolaan koperasi ke depan dapat dipercayakan kepada tenaga lokal yang memahami karakter dan kebutuhan masyarakat setempat, sekaligus memiliki kapasitas profesional dalam menjalankan roda organisasi.
Di tengah sensitivitas sektor kebutuhan pokok, ia mengingatkan bahwa transparansi dan akuntabilitas adalah fondasi yang tidak bisa ditawar. Pengelolaan koperasi, menurutnya, harus dijaga dengan integritas tinggi agar benar-benar menjadi solusi, bukan sebaliknya.
Dengan segala potensi yang dimiliki, Koperasi Merah Putih diharapkan mampu menjadi episentrum baru bagi perputaran ekonomi rakyat, membuka akses, menekan disparitas harga, dan pada akhirnya memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat Samarinda dari akar rumput.
(ADV/DPRD Samarinda)











