Menu

Dark Mode
Mengenang Peristiwa Kudatuli, Ananda: Demokrasi Tak Lahir di Atas Karpet Merah Kekuasaan Sebabkan Kemacetan, DPRD Samarinda Soroti Tata Kelola Kendaraan Berat Sehari Melepas Gawai, Menemukan Diri di Rimba Samarinda Merawat Pertiwi, DPC PDI Perjuangan Samarinda Tanam Pohon Buah di Kawasan Folder Kronologi Hilangnya Nadira Az-Zahra, Mahasiswi Telkom University Sempat Keluar dari Seluruh Grup WhatsApp Sebelum Tak Bisa Dihubungi Megawati Pimpin Langkah Strategis PDI Perjuangan Hadapi Ancaman El Nino, Ketahanan Air dan Pangan Jadi Prioritas

Advertorial

Ketimpangan Alokasi Anggaran Pendidikan Dipusat Kota dan Pinggiran Jadi Sorotan DPRD Samarinda

badge-check


					Anggota Komisi IV DPRD Samarinda, Anhar. (Foto : MR) Perbesar

Anggota Komisi IV DPRD Samarinda, Anhar. (Foto : MR)

SAMARINDA – Ketimpangan alokasi anggaran pendidikan antara wilayah pusat kota dan pinggiran jadi sorotan. Anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Anhar, melontarkan kritik tajam terkait hal ini, khususnya di kawasan Palaran.

Anhar bilang dari alokasi anggaran pada tahun 2025 untuk kegiatan fisik di bidang pendidikan mencapai sekitar Rp317 miliar, sementara daerah pinggiran seperti kecamatan Palaran hanya mendapat porsi Rp10 miliar untuk jenjang SD dan SMP.

Angka itu dinilainya sangat timpang jika dibandingkan dengan kebutuhan di lapangan.

“Padahal alokasi pendidikan khusus fisik tahun 2025 sekitar Rp317 miliar, tapi Palaran hanya diberi Rp10 miliar untuk SD dan SMP,” ujar Anhar kepada wartawan (27/6/2025).

Ia menegaskan bahwa minimnya anggaran tersebut berdampak langsung terhadap kondisi fisik bangunan sekolah dan fasilitas penunjang pendidikan yang tidak memadai. Anhar menggambarkan sekolah-sekolah di Palaran masih banyak yang jauh dari kata layak.

“Gedung tidak semerawut, fasilitas tidak lengkap, ini sangat jauh dari kata memadai,” sebutnya.

Lebih jauh, ia menyebut ketimpangan fasilitas inilah yang memicu lahirnya stigma sekolah favorit di pusat kota. Menurutnya, hal ini turut mendorong praktik curang dalam proses Penerimaan Murid Baru (SPMB), karena orang tua berlomba-lomba mencari sekolah yang dianggap unggul secara infrastruktur.

“Ini yang membuka peluang praktik curang di sekolah. Orang tua berlomba-lomba cari sekolah dengan fasilitas terbaik. Maka muncul istilah sekolah favorit,” tegasnya.

Anhar menilai, jika seluruh sekolah di Samarinda memiliki fasilitas dan bangunan yang setara, maka persepsi masyarakat terhadap kualitas sekolah akan merata. Ia pun mendorong pemerintah kota agar mengevaluasi ulang skema penganggaran untuk memastikan pemerataan pembangunan pendidikan.

“Jika fasilitas pendidikan bisa merata, untuk apa para orang tua pilih-pilih sekolah? Kan sama saja,” paparnya.

Ia menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa persoalan ini bukan semata kesalahan masyarakat, tetapi mencerminkan kurang optimalnya pemerintah dalam menyediakan infrastruktur pendidikan secara adil.

“Masalah pendidikan kita tidak bisa menyalahkan masyarakat, tapi kita harus refleksi kegagalan dalam menyediakan infrastruktur pendidikan yang merata,” pungkasnya.

(Adv/fran)

Facebook Comments Box

Baca Selengkapnya

Sebabkan Kemacetan, DPRD Samarinda Soroti Tata Kelola Kendaraan Berat

16 July 2026 - 14:36 WITA

Hearing Varia Niaga Ditunda, DPRD Samarinda Siapkan ‘Peta Merah-Kuning-Hijau’ untuk Bedah Kinerja Perusahaan

30 June 2026 - 23:05 WITA

DPRD Samarinda Dorong Revolusi Pengelolaan Sampah dari Rumah Tangga, Tekan Beban TPA Lewat Daur Ulang

30 June 2026 - 23:01 WITA

Gangguan PLTGU Picu Pemadaman Bergilir, Langkah Pemulihan Harus Dipercepat Demi Selamatkan Aktivitas Ekonomi

30 June 2026 - 22:38 WITA

DPRD Samarinda Ragukan Target Laba BPR Rp2,7 Miliar, Meski Kinerja Terus Membaik

29 June 2026 - 23:12 WITA

Trending on Advertorial