Terkadang pelajaran paling berharga bukan ditemukan melalui sentuhan jari di atas layar, melainkan dari setiap langkah yang menembus jalan setapak, setiap rasa takut yang berhasil ditaklukkan, dan setiap pengalaman yang lahir di bawah rindangnya pepohonan.
SAMARINDA – Matahari baru merayap di ufuk timur ketika belasan remaja mulai memadati Jalan Lapandewa, Batu Besaung, Sempaja Utara, Minggu (5/7/2026). Di tangan mereka tak tampak gawai yang biasanya menjadi teman setia. Sebagai gantinya, sepatu lapangan, botol minum, dan semangat petualangan menjadi bekal untuk menembus rimba.
Hari itu, mereka mengikuti Rimba Adventure Batch 2, program yang digagas Sekolah Rimba Samarinda. Bukan sekadar kegiatan jelajah alam, melainkan sebuah ajakan untuk berhenti sejenak dari dunia digital dan kembali mengenal kehidupan yang sesungguhnya.
Di tengah kesibukan mengatur peserta, pendiri Sekolah Rimba Samarinda, Yurni Handayani, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan ruang belajar yang berbeda. Anak-anak diajak menikmati satu hari tanpa ketergantungan pada telepon genggam.
“Semua peserta memang kita dorong untuk hidup sehari saja tanpa handphone, supaya benar-benar bisa merasakan sensasi alam yang sebenarnya,” ujarnya.

Tepat pukul 08.00 WITA, petualangan dimulai. Setelah menerima pengarahan mengenai jalur yang akan dilalui, suasana yang semula dipenuhi wajah-wajah tegang mendadak berubah ceria. Irama lagu Gemu Famire mengalun, mengajak seluruh peserta bergerak bersama dalam senam pemanasan. Tawa pun pecah, seolah menjadi penanda dimulainya perjalanan.
Namun, keceriaan itu segera berganti dengan tantangan.
Baru beberapa langkah memasuki kawasan hutan, peserta langsung diminta merayap melewati lintasan berlumpur layaknya latihan militer. Setelah itu, mereka harus menuruni lembah, menyusuri jalan setapak yang licin, hingga meniti tali yang terbentang di antara pepohonan.
Di atas tali itulah keberanian benar-benar diuji. Sebagian peserta berteriak menahan takut, beberapa lainnya berhenti karena ragu melangkah. Di sisi lain, terdengar sorakan teman-teman yang tak henti memberi semangat. Suara-suara itu menggema di antara rindangnya pepohonan, menciptakan suasana yang hangat sekaligus menegangkan.
Perjalanan belum usai. Tantangan berikutnya hadir melalui permainan kelompok yang menguji kekompakan dan kepercayaan antarpeserta. Mereka bergantian menaklukkan rintangan Tarzan, Cinaboy, hingga jaring laba-laba.
Tak hanya belajar menaklukkan medan, peserta juga diajak mengenal kekayaan hutan. Mereka mencari durian yang jatuh, memungut biji kemiri, mengenali kapulaga, hingga mempraktikkan cara mengolah kemiri menjadi bumbu dapur. Hutan pun berubah menjadi ruang kelas terbuka, tempat pelajaran diperoleh lewat pengalaman, bukan sekadar teori.
Di balik serunya petualangan, keselamatan tetap menjadi prioritas. Sekolah Rimba menggandeng relawan medis dari Satu Nadi Kalimantan (SANAK) untuk mendampingi kegiatan sejak awal hingga selesai. Ambulans milik Satria Nakula Sadewa dan PWI Kaltim Peduli juga disiagakan di titik terdekat sebagai langkah antisipasi.
“Kami siapkan tim medis untuk mengantisipasi jika terjadi sesuatu pada peserta maupun mentor,” kata Rakha Fakhriansyah atau Ahzar, relawan SANAK.
Kesiapan itu terbukti bukan sekadar formalitas. Di tengah perjalanan, seorang peserta mengalami kelelahan disertai pusing. Tanpa menunggu lama, tim medis bergerak cepat mengevakuasi menggunakan tandu dari dasar lembah menuju ambulans. Setelah mendapatkan terapi oksigen dan beristirahat, kondisinya perlahan kembali stabil.
Menjelang akhir perjalanan, wajah-wajah peserta tampak berubah. Tubuh mereka memang dipenuhi peluh dan lumpur, tetapi senyum yang mengembang memperlihatkan kepuasan yang sulit disembunyikan. Mereka pulang bukan hanya membawa pengalaman bertualang, melainkan juga pelajaran tentang keberanian, kerja sama, kepedulian, dan kemampuan bertahan dalam situasi yang tidak selalu nyaman.
Bagi Yurni dan seluruh tim Sekolah Rimba, itulah tujuan sesungguhnya dari Rimba Adventure. Di tengah derasnya arus teknologi yang membuat generasi muda semakin akrab dengan layar, hutan menawarkan ruang untuk kembali mendengar suara alam, mempercayai teman, dan mengenali diri sendiri.
(Fran)










