SAMARINDA – Peringatan Bulan Bung Karno menjelma jadi ruang refleksi yang berkelas dan sarat makna. Anggota DPRD Kalimantan Timur, Sugiyono, menghadirkan Sarasehan Kebangsaan bertajuk “Meneladani Pemikiran Bung Karno untuk Samarinda Maju” yang digelar di Cafe D’Bagios, Minggu (21/6/2026).
Kegiatan ini dikemas dalam dialog intelektual yang hangat namun berbobot. Perwakilan organisasi kepemudaan dan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Samarinda duduk setara, merangkai diskursus tentang warisan pemikiran Bung Karno dalam lanskap kekinian, mulai dari pembangunan daerah hingga dinamika sosial generasi muda.
Sugiyono menegaskan bahwa Bulan Bung Karno bukan sekadar agenda rutin partai, melainkan panggilan ideologis sebagai upaya merawat ingatan kolektif bangsa terhadap nilai-nilai besar yang pernah menjadi fondasi berdirinya republik ini.
“Bulan Juni adalah momentum untuk kembali menyalakan kesadaran. Bung Karno bukan hanya sejarah, tetapi arah,” ujar Sugiyono. Menariknya, pendekatan yang digunakan tidak berhenti pada ruang diskusi.
Sebelumnya, Sugiyono telah menggagas Creative Competition: Bulan Bung Karno, sebuah kompetisi video naratif yang menyasar generasi digital. Mengusung tema Dedication of Life, kompetisi ini memanfaatkan platform seperti Instagram dan TikTok sebagai medium baru penyebaran gagasan kebangsaan.
Langkah ini mencerminkam bahwa ideologi tidak lagi cukup disampaikan melalui mimbar, tetapi harus hadir di ruang-ruang yang akrab dengan generasi muda. Di sinilah nilai Bung Karno ditransformasikan menjadi konten yang relevan, tanpa kehilangan esensi perjuangannya.
Sugiyono menilai, ada jarak yang perlu dijembatani antara generasi pasca-reformasi dengan ajaran Bung Karno. Marhaenisme, sebagai salah satu pilar pemikiran sang proklamator, disebutnya tetap memiliki resonansi kuat di tengah realitas ketimpangan sosial saat ini.
“Marhaenisme berbicara tentang keberpihakan. Tentang mereka yang kecil, yang sering tak terdengar. Itu tidak pernah usang,” ungkapnya.
Namun, lebih dari sekadar wacana, Sugiyono menekankan pentingnya praksis. Baginya, politik tidak boleh berhenti pada retorika, melainkan harus menjelma menjadi tindakan konkret yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat.
Dalam konteks itulah, ia mengingatkan bahwa mandat sebagai wakil rakyat adalah amanah yang harus ditunaikan dengan kerja nyata—terutama bagi mereka yang berada di lapisan paling rentan.
“Esensi perjuangan itu hadir ketika kita benar-benar turun dan memberi dampak. Bukan hanya bicara, tapi bekerja,” tegasnya.
Di sisi lain, sarasehan ini juga menjadi ruang untuk menautkan isu lokal dengan kebijakan nasional. Sugiyono menyinggung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai salah satu agenda strategis pemerintah, sembari menegaskan pentingnya menjaga program tersebut tetap bersih dari kepentingan politik praktis.
Tak kalah penting, ia turut menyoroti kebijakan penghapusan tenaga guru honorer yang dinilai berpotensi menimbulkan persoalan baru dalam dunia pendidikan. Bagi Sugiyono, kebijakan publik harus selalu mempertimbangkan dimensi kemanusiaan, terutama bagi mereka yang telah lama mengabdi.
Sepanjang acara, diskusi berlangsung hidup dan reflektif. Pertanyaan demi pertanyaan mengalir, menandakan antusiasme peserta dalam menggali kembali relevansi pemikiran Bung Karno di tengah tantangan zaman.
Pada akhirnya, sarasehan ini tidak hanya menjadi forum dialog, tetapi juga ruang penyadaran, bahwa di tengah modernitas, bangsa ini tetap membutuhkan akar. Dan dari akar itulah, semangat Marhaenisme kembali dihidupkan, perlahan namun pasti, di jantung Samarinda.
(*)











