Menu

Dark Mode
Dua Kali Tertunda, Penyampaian Visi-Misi Bakal Calon Rektor Unmul Digelar Besok Kabut Asap Ancam Aktivitas Sekolah, Disdikbud Samarinda Siapkan Skenario Belajar Daring 768 Pasang Pemain Siap Adu Strategi di Samarinda Domino Series 4, Road to Liga Pro Konferda PA GMNI Kaltim Digelar di Kutim, 10 DPC Disiapkan Menyatukan Gagasan untuk Masa Depan Daerah Moment Kemerdekaan, Ananda Ajak Masyarakat Lanjutkan Semangat Perjuangan Pendiri Bangsa Ratusan Siswa Tumbang Usai Santap MBG, Ujian Serius bagi Standar Keamanan Program Gizi Nasional

Advertorial

Fenomena Pak Ogah Cerminkan Masalah Sosial, DPRD Samarinda Dorong Pendekatan Humanis dalam Penanganan

badge-check


					Anggota Komisi I DPRD Samarinda, Ronald Stephen Lonteng. (Foto : MR) Perbesar

Anggota Komisi I DPRD Samarinda, Ronald Stephen Lonteng. (Foto : MR)

SAMARINDA – Maraknya kehadiran pak ogah, atau pengatur lalu lintas informal di persimpangan jalan Samarinda, bukan hanya persoalan ketertiban semata. Di balik fenomena ini, tersimpan potret permasalahan sosial dan ekonomi yang nyata di masyarakat.

Anggota Komisi I DPRD Kota Samarinda, Ronald Stephen Lonteng, menilai bahwa keberadaan pak ogah perlu disikapi secara lebih bijak dan manusiawi. Ia menegaskan, banyak dari mereka yang turun ke jalan bukan karena pilihan, melainkan karena tekanan ekonomi.

“Ini bukan hanya soal pelanggaran lalu lintas. Kita juga harus melihat sisi sosialnya. Banyak dari mereka melakukan ini karena memang tidak punya alternatif penghasilan lain,” ujar Ronald.

Ia menambahkan, dalam beberapa situasi, kehadiran pak ogah justru memberi kontribusi dalam mengurai kemacetan, terutama di persimpangan padat saat jam-jam sibuk. Meski begitu, pengawasan tetap diperlukan agar tidak menimbulkan keresahan di masyarakat.

“Kalau mereka membantu dengan cara yang tidak merugikan, kita juga tidak bisa langsung menghakimi. Tapi kalau sudah ada unsur paksaan atau tindakan merugikan pengendara, tentu harus ditindak tegas,” jelasnya.

Ronald meminta agar penertiban dilakukan dengan pendekatan yang lebih kontekstual dan tidak menyamaratakan semua pelaku. Ia mendorong pemerintah untuk memilah mana yang perlu dibina, bukan sekadar ditertibkan secara paksa.

“Penanganannya harus selektif. Jangan semua dipukul rata. Ada yang memang perlu pendampingan, bukan penindakan,” katanya.

Lebih jauh, ia mendorong Pemkot Samarinda untuk menyusun solusi jangka panjang, terutama yang menyasar akar permasalahan ekonomi. Menurutnya, pelatihan keterampilan dan pembukaan lapangan kerja informal yang legal bisa menjadi jalan keluar yang lebih manusiawi.

“Kalau akar persoalannya adalah ekonomi, maka solusinya juga harus ekonomis. Jangan cuma fokus pada razia, tapi pikirkan juga bagaimana mereka bisa diberdayakan dan punya penghasilan yang lebih layak,” tutup Ronald.

(Adv/MR)

Facebook Comments Box

Baca Selengkapnya

DPRD Dorong Polder Air Hitam Jadi Ruang Publik dan Etalase UMKM

7 August 2026 - 18:49 WITA

DPRD Samarinda Dorong Kantor Pemerintahan Jadi Ruang Kerja Bebas Vape

6 August 2026 - 19:08 WITA

DPRD Samarinda Ingin Pasar Rakyat Naik Kelas, Tak Lagi Sekadar Tempat Jual Beli

4 August 2026 - 19:04 WITA

Terowongan Samarinda Tinggal Menunggu “Lampu Hijau”, DPRD Tekankan Keselamatan Sebelum Dibuka

4 August 2026 - 08:33 WITA

DPRD Samarinda Dorong Dapur Gizi Jadi Etalase Produk Lokal

3 August 2026 - 08:08 WITA

Trending on Advertorial