Menu

Dark Mode
Agus Suwandi Optimis Pesut Etam Bawa Pulang Trofi Menagih Janji Hibah Lahan Pemakaman PT BBE, Dewan Soroti Keseriusan Perusahaan Dadan Soal 19.000 Ekor Sapi untuk MBG: Sekadar Simulasi, Bukan Kebutuhan Riil Korupsi Dana Hibah Pokir Rp242 Miliar, Ketua DPRD Magetan Menangis Saat Ditahan Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kaltim Siap Gulirkan Hak Angket Sebagai Respon Tuntutan Masa Aksi 214 Hadiri Konsolidasi PDIP Berau, Dua Hal Ini yang Ditekankan Ananda Moeis

Advertorial

Kampus Potensi Terjun ke Bisnis Pertambangan, Anhar Berikan Kritik Tajam

badge-check


					Anggota Komisi IV DPRD Samarinda, Anhar. (Foto : Ist) Perbesar

Anggota Komisi IV DPRD Samarinda, Anhar. (Foto : Ist)

SAMARINDA – Wacana keterlibatan perguruan tinggi dalam bisnis pertambangan menuai kritik dari berbagai pihak. Anggota Komisi IV DPRD Samarinda, Anhar, mengkritik tajam rencana sebuah institusi pendidikan tinggi yang ingin terlibat dalam bisnis pertambangan.

Menurutnya, kampus seharusnya fokus pada tugas utama sebagai lembaga pendidikan dan riset, bukan bersaing di sektor industri.

Anhar menegaskan bahwa dunia akademik memiliki peran strategis dalam mencetak ilmuwan dan tenaga profesional, bukan menjadi pelaku usaha di industri.

“Kampus itu tempat mendidik, bukan tempat bisnis. Lulusannya yang seharusnya masuk ke dunia industri, bukan kampusnya yang jadi pelaku usaha,” jelas Anhar.

Anhar menilai, jika kampus mulai mengelola tambang, maka lulusan yang seharusnya mencari pekerjaan di sektor tersebut bisa kehilangan peluang. Selain itu, kampus yang berorientasi bisnis berisiko mengabaikan fungsi utama pendidikan dalam membangun intelektual dan akademisi.

“Mahasiswa di kampus diuji intelektualnya. Mereka belajar, meneliti, dan menulis skripsi sebagai bekal sebelum masuk dunia kerja. Kalau kampus malah sibuk mengelola tambang, lalu bagaimana nasib lulusannya?” ujarnya.

Politikus PDIP itu juga menyoroti kebijakan pemerintah pusat yang dinilainya tidak memahami esensi pendidikan tinggi.

“Orang pusat ini kadang merasa paling pintar dan paling tahu segalanya. Padahal, kebijakan seperti ini justru bisa merusak dunia pendidikan dan ketenagakerjaan,” tuturnya.

Lebih lanjut, Anhar mengungkapkan bahwa keputusan yang membiarkan kampus terjun ke dunia bisnis dapat menggeser fokus institusi pendidikan dari pengembangan ilmu pengetahuan menjadi orientasi keuntungan semata.

Dirinya berharap kebijakan ini dikaji ulang agar kampus tetap menjalankan peran utamanya sebagai pusat pendidikan dan riset tanpa harus bersaing dalam dunia industri.

“Tugas kampus adalah mencetak lulusan yang siap kerja, bukan menjadi pemain di industri. Jangan sampai kampus kehilangan jati dirinya,” tandasnya. (Adv/MR)

Facebook Comments Box

Baca Selengkapnya

Novan Tekankan Pentingnya Percepatan Program Pembangunan Infrastruktur Pendidikan

3 July 2025 - 13:27 WITA

Dewan Bakal Panggil Sekolah Yang Ketahuan Lakukan Praktik Jual Beli Buku

3 July 2025 - 13:13 WITA

Ismail Latisi Apresiasi Pemkot Samarinda Atas Perhatian Pada Warga Sumur Batu

2 July 2025 - 12:42 WITA

Warning Ismail Latisi ke Sekolah: Tidak Boleh Mewajibkan Siswa Membeli Buku Pelajaran

2 July 2025 - 12:16 WITA

Ketimpangan Alokasi Anggaran Pendidikan Dipusat Kota dan Pinggiran Jadi Sorotan DPRD Samarinda

2 July 2025 - 07:34 WITA

Trending on Advertorial