Menu

Dark Mode
Mengenang Peristiwa Kudatuli, Ananda: Demokrasi Tak Lahir di Atas Karpet Merah Kekuasaan Sehari Melepas Gawai, Menemukan Diri di Rimba Samarinda Merawat Pertiwi, DPC PDI Perjuangan Samarinda Tanam Pohon Buah di Kawasan Folder Kronologi Hilangnya Nadira Az-Zahra, Mahasiswi Telkom University Sempat Keluar dari Seluruh Grup WhatsApp Sebelum Tak Bisa Dihubungi Megawati Pimpin Langkah Strategis PDI Perjuangan Hadapi Ancaman El Nino, Ketahanan Air dan Pangan Jadi Prioritas Hearing Varia Niaga Ditunda, DPRD Samarinda Siapkan ‘Peta Merah-Kuning-Hijau’ untuk Bedah Kinerja Perusahaan

Advertorial

Kampus Potensi Terjun ke Bisnis Pertambangan, Anhar Berikan Kritik Tajam

badge-check


					Anggota Komisi IV DPRD Samarinda, Anhar. (Foto : Ist) Perbesar

Anggota Komisi IV DPRD Samarinda, Anhar. (Foto : Ist)

SAMARINDA – Wacana keterlibatan perguruan tinggi dalam bisnis pertambangan menuai kritik dari berbagai pihak. Anggota Komisi IV DPRD Samarinda, Anhar, mengkritik tajam rencana sebuah institusi pendidikan tinggi yang ingin terlibat dalam bisnis pertambangan.

Menurutnya, kampus seharusnya fokus pada tugas utama sebagai lembaga pendidikan dan riset, bukan bersaing di sektor industri.

Anhar menegaskan bahwa dunia akademik memiliki peran strategis dalam mencetak ilmuwan dan tenaga profesional, bukan menjadi pelaku usaha di industri.

“Kampus itu tempat mendidik, bukan tempat bisnis. Lulusannya yang seharusnya masuk ke dunia industri, bukan kampusnya yang jadi pelaku usaha,” jelas Anhar.

Anhar menilai, jika kampus mulai mengelola tambang, maka lulusan yang seharusnya mencari pekerjaan di sektor tersebut bisa kehilangan peluang. Selain itu, kampus yang berorientasi bisnis berisiko mengabaikan fungsi utama pendidikan dalam membangun intelektual dan akademisi.

“Mahasiswa di kampus diuji intelektualnya. Mereka belajar, meneliti, dan menulis skripsi sebagai bekal sebelum masuk dunia kerja. Kalau kampus malah sibuk mengelola tambang, lalu bagaimana nasib lulusannya?” ujarnya.

Politikus PDIP itu juga menyoroti kebijakan pemerintah pusat yang dinilainya tidak memahami esensi pendidikan tinggi.

“Orang pusat ini kadang merasa paling pintar dan paling tahu segalanya. Padahal, kebijakan seperti ini justru bisa merusak dunia pendidikan dan ketenagakerjaan,” tuturnya.

Lebih lanjut, Anhar mengungkapkan bahwa keputusan yang membiarkan kampus terjun ke dunia bisnis dapat menggeser fokus institusi pendidikan dari pengembangan ilmu pengetahuan menjadi orientasi keuntungan semata.

Dirinya berharap kebijakan ini dikaji ulang agar kampus tetap menjalankan peran utamanya sebagai pusat pendidikan dan riset tanpa harus bersaing dalam dunia industri.

“Tugas kampus adalah mencetak lulusan yang siap kerja, bukan menjadi pemain di industri. Jangan sampai kampus kehilangan jati dirinya,” tandasnya. (Adv/MR)

Facebook Comments Box

Baca Selengkapnya

Hearing Varia Niaga Ditunda, DPRD Samarinda Siapkan ‘Peta Merah-Kuning-Hijau’ untuk Bedah Kinerja Perusahaan

30 June 2026 - 23:05 WITA

DPRD Samarinda Dorong Revolusi Pengelolaan Sampah dari Rumah Tangga, Tekan Beban TPA Lewat Daur Ulang

30 June 2026 - 23:01 WITA

Gangguan PLTGU Picu Pemadaman Bergilir, Langkah Pemulihan Harus Dipercepat Demi Selamatkan Aktivitas Ekonomi

30 June 2026 - 22:38 WITA

DPRD Samarinda Ragukan Target Laba BPR Rp2,7 Miliar, Meski Kinerja Terus Membaik

29 June 2026 - 23:12 WITA

Kebakaran Gang Mawar Jadi Alarm Penataan Permukiman, DPRD Samarinda Dorong Solusi Jangka Panjang

29 June 2026 - 23:07 WITA

Trending on Advertorial