SAMARINDA – Peta perjalanan Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA GMNI) Kalimantan Timur memasuki fase penting. Yaitu, pemilihan pucuk pimpinan organisasi kedepan. Tak hanya itu, kekuatan alumni GMNI di seluruh daerah didorong dapat dikonsolidasikan menjadi gagasan yang relevan bagi masa depan Kalimantan Timur.
Momentum itu akan berlangsung melalui Konferensi Daerah (Konferda) PA GMNI Kaltim yang dijadwalkan digelar pada Oktober 2026 di Kabupaten Kutai Timur.
Sebanyak 10 Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PA GMNI kabupaten/kota akan mengambil bagian dalam forum tersebut. Mereka berasal dari Samarinda, Bontang, Penajam Paser Utara (PPU), Paser, Balikpapan, Kutai Kartanegara (Kukar), Kutai Timur (Kutim), Berau, Mahakam Ulu (Mahulu), dan Kutai Barat (Kubar).
Ketua Panitia Konferda PA GMNI Kaltim, Aleks Bhajo, mengatakan forum tersebut dirancang sebagai ruang konsolidasi untuk mempertemukan berbagai gagasan dari seluruh cabang.
Menurutnya, Konferda memiliki makna yang jauh lebih besar dibandingkan sekadar agenda organisasi untuk menentukan kepengurusan baru.
“Konferda ini bukan sekadar agenda pergantian kepengurusan. Ini menjadi momentum bagi seluruh alumni GMNI di Kalimantan Timur untuk duduk bersama, melakukan evaluasi, menyatukan gagasan, dan menentukan arah organisasi ke depan,” ujar Aleks.
Ia menyebut keberadaan 10 DPC menunjukkan bahwa PA GMNI telah memiliki jejaring organisasi yang tersebar di berbagai karakter wilayah Kaltim.
Kondisi tersebut dinilai menjadi modal penting untuk membangun organisasi yang tidak hanya aktif secara administratif, tetapi juga mampu menjadi ruang bertemunya pemikiran dan pengalaman para alumni.
“Kami ingin seluruh DPC memiliki kesempatan yang sama untuk menyampaikan gagasan dan pandangannya. Organisasi ini tidak bisa dibangun hanya oleh satu atau dua wilayah, tetapi harus menjadi kerja bersama seluruh alumni GMNI di Kalimantan Timur,” katanya.
Membawa Konsolidasi Keluar dari Pusat Kota
Pemilihan Kutai Timur sebagai lokasi Konferda juga membawa pesan tersendiri.
Aleks mengatakan, pelaksanaan forum di luar pusat pemerintahan provinsi menjadi upaya untuk mempertegas bahwa pembangunan organisasi PA GMNI Kaltim harus tumbuh secara merata.
“Kita ingin konsolidasi organisasi tidak hanya terpusat di Samarinda atau Balikpapan. Semua daerah memiliki peran penting. Kutai Timur menjadi tempat kita mempertemukan seluruh DPC untuk membangun kembali semangat kebersamaan dan memperkuat organisasi,” jelasnya.
Bagi PA GMNI, pemerataan konsolidasi tersebut dinilai penting di tengah perubahan besar yang sedang berlangsung di Kalimantan Timur.
Sebagai daerah yang menjadi salah satu episentrum pembangunan nasional, Kaltim menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari transformasi ekonomi, pembangunan infrastruktur, penguatan sumber daya manusia hingga persoalan sosial yang menyertai pertumbuhan daerah.
Di tengah situasi tersebut, Aleks menilai alumni GMNI memiliki ruang untuk mengambil peran melalui kontribusi pemikiran dan gagasan.
“Alumni GMNI memiliki pengalaman dan kapasitas yang beragam. Potensi itu harus dikonsolidasikan. PA GMNI jangan hanya menjadi tempat berkumpulnya alumni, tetapi juga harus mampu melahirkan gagasan dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat,” tegasnya.
Pimpinan Nasional Dijadwalkan Hadir
Konferda PA GMNI Kaltim juga dijadwalkan mendapat penguatan dari jajaran pimpinan nasional.
Ketua Umum PA GMNI Prof. Dr. Arief Hidayat, S.H., M.S. menjadi salah satu figur yang diharapkan hadir dan memberikan penguatan dalam forum tersebut.
Arief Hidayat diketahui merupakan akademisi hukum yang pernah menjabat sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia periode 2015–2018.
Aleks mengatakan keterlibatan pimpinan nasional menjadi kesempatan untuk mempererat komunikasi antara struktur organisasi di daerah dengan kepengurusan pusat.
“Kita berharap ada arahan dan penguatan dari pimpinan nasional. Terutama bagaimana PA GMNI di daerah dapat mengambil peran yang lebih besar dalam memberikan gagasan terhadap persoalan masyarakat dan pembangunan di Kalimantan Timur,” ujarnya.
Menjaga Persaudaraan di Tengah Dinamika
Di sisi lain, Aleks menekankan agar seluruh tahapan menuju Konferda tetap dibangun dalam suasana demokratis dan penuh persaudaraan.
Ia menyadari dinamika dan perbedaan pandangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses organisasi. Namun, perbedaan tersebut diharapkan tidak menggeser tujuan utama untuk memperkuat PA GMNI Kaltim.
“Perbedaan pandangan adalah hal yang wajar. Tetapi jangan sampai perbedaan itu membuat kita kehilangan semangat persaudaraan. Kita ingin Konferda berjalan secara demokratis, sehat dan tetap mengedepankan kepentingan organisasi,” katanya.
Ia berharap forum di Kutai Timur nantinya mampu melahirkan kepengurusan yang solid, progresif, sekaligus memiliki visi yang jelas dalam membaca kebutuhan organisasi dan perkembangan Kalimantan Timur.
“Siapapun yang nantinya mendapat amanah, tanggung jawabnya besar. Harapan kita kepengurusan ke depan mampu membawa PA GMNI Kaltim lebih solid, progresif dan mampu memberikan kontribusi pemikiran bagi masyarakat serta pembangunan daerah,” pungkas Aleks.
Dengan mempertemukan 10 DPC dari seluruh penjuru Kalimantan Timur, Konferda PA GMNI Kaltim di Kutai Timur berpotensi menjadi lebih dari sekadar forum internal organisasi.
Ia menjadi panggung konsolidasi gagasan, tempat pengalaman para alumni, dinamika daerah, dan tantangan pembangunan Kaltim dipertemukan untuk merumuskan arah baru organisasi pada periode mendatang. (Red)











