Menu

Dark Mode
Sehari Melepas Gawai, Menemukan Diri di Rimba Samarinda Merawat Pertiwi, DPC PDI Perjuangan Samarinda Tanam Pohon Buah di Kawasan Folder Kronologi Hilangnya Nadira Az-Zahra, Mahasiswi Telkom University Sempat Keluar dari Seluruh Grup WhatsApp Sebelum Tak Bisa Dihubungi Megawati Pimpin Langkah Strategis PDI Perjuangan Hadapi Ancaman El Nino, Ketahanan Air dan Pangan Jadi Prioritas Hearing Varia Niaga Ditunda, DPRD Samarinda Siapkan ‘Peta Merah-Kuning-Hijau’ untuk Bedah Kinerja Perusahaan DPRD Samarinda Dorong Revolusi Pengelolaan Sampah dari Rumah Tangga, Tekan Beban TPA Lewat Daur Ulang

Advertorial

Kolaborasi Lintas Sektor Kaltim untuk Percepatan Penurunan Stunting dan Penguatan Ketahanan Keluarga

badge-check


					Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (DPMPD) kaltim, Puguh Harjanto/ Foto: FASENEWS.ID Perbesar

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (DPMPD) kaltim, Puguh Harjanto/ Foto: FASENEWS.ID

FASENEWS.ID – Melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur konsisten mendukung pembangunan ketahanan keluarga serta meningkatkan pemberdayaan masyarakat.

Komitmen itu diwujudkan melalui upaya peningkatan kesadaran keluarga dalam menjalin sinergi dengan sesama keluarga, warga, dan kelompok masyarakat, disertai pelatihan parenting.

Puguh Harjanto, Kepala DPMPD Kaltim, menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam mengatasi persoalan sosial, khususnya untuk mempercepat penurunan angka stunting.

“Permasalahan keluarga dimulai sejak usia dini, salah satunya adalah stunting. Ini ancaman serius bagi masa depan generasi kita,” ucap Puguh.

Selain itu, ia menyoroti masalah perkawinan dini, rendahnya akses pendidikan, dan perilaku menyimpang di kalangan remaja yang semakin menambah tantangan sosial di Kaltim.

Menurut data Survei Status Gizi Indonesia 2023, angka stunting di Kaltim tercatat meningkat dari 22,8 persen pada 2022 menjadi 23,9 persen.

“Ini menjadi alarm bagi kita semua. Target kita jelas, prevalensi stunting harus turun hingga 14 persen pada 2024,” terangnya.

Puguh berpendapat bahwa stunting tidak hanya masalah kesehatan tetapi juga masalah yang berkaitan dengan masa depan negara.

Anak yang tumbuh dengan kondisi stunting lebih rentan mengalami gangguan perkembangan, sehingga dapat mengurangi kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.

“Bagaimana kita bisa mencapai visi Indonesia Emas 2045 jika modal dasarnya terganggu? Oleh karena itu, upaya penanganan stunting harus dilakukan secara kolaboratif,” lanjutnya.

Puguh menegaskan bahwa program ini harus bekerja sama dengan baik dengan pemerintah, masyarakat, dan kelompok sosial.

“Masa depan kita bergantung pada aksi kolaboratif yang kita lakukan sekarang. Anak-anak yang kita rawat hari ini adalah mereka yang akan menjaga bangsa ini di masa depan,” terang Puguh. (adv)

Facebook Comments Box

Baca Selengkapnya

Hearing Varia Niaga Ditunda, DPRD Samarinda Siapkan ‘Peta Merah-Kuning-Hijau’ untuk Bedah Kinerja Perusahaan

30 June 2026 - 23:05 WITA

DPRD Samarinda Dorong Revolusi Pengelolaan Sampah dari Rumah Tangga, Tekan Beban TPA Lewat Daur Ulang

30 June 2026 - 23:01 WITA

Gangguan PLTGU Picu Pemadaman Bergilir, Langkah Pemulihan Harus Dipercepat Demi Selamatkan Aktivitas Ekonomi

30 June 2026 - 22:38 WITA

DPRD Samarinda Ragukan Target Laba BPR Rp2,7 Miliar, Meski Kinerja Terus Membaik

29 June 2026 - 23:12 WITA

Kebakaran Gang Mawar Jadi Alarm Penataan Permukiman, DPRD Samarinda Dorong Solusi Jangka Panjang

29 June 2026 - 23:07 WITA

Trending on Advertorial