Menu ✖

Dark Mode
Karhutla Mendekati Kompleks Pemkot Palangka Raya, Asap Pekat Masuk Ruang Kerja ASN Cerita Zaskia Adya Mecca Sulitnya Padamkan Api Dilahan Gambut Wakil Walikota Bontang Targetkan Penurunan 30 Persen Angka Kemiskinan di Tahun 2027 Forum Pemuda NTT Kota Samarinda Dorong Pemerintah Atasi Akar Kemiskinan Perdesaan Kompetisi Samarinda Domino Series 4 Pertandingkan 768 Pasang Pemain, PB Pordi Siapkan Wasit Berkualitas Dua Kali Tertunda, Penyampaian Visi-Misi Bakal Calon Rektor Unmul Digelar Besok

Advertorial

Kolaborasi Lintas Sektor Kaltim untuk Percepatan Penurunan Stunting dan Penguatan Ketahanan Keluarga

badge-check


					Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (DPMPD) kaltim, Puguh Harjanto/ Foto: FASENEWS.ID Perbesar

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (DPMPD) kaltim, Puguh Harjanto/ Foto: FASENEWS.ID

FASENEWS.ID – Melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur konsisten mendukung pembangunan ketahanan keluarga serta meningkatkan pemberdayaan masyarakat.

Komitmen itu diwujudkan melalui upaya peningkatan kesadaran keluarga dalam menjalin sinergi dengan sesama keluarga, warga, dan kelompok masyarakat, disertai pelatihan parenting.

Puguh Harjanto, Kepala DPMPD Kaltim, menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam mengatasi persoalan sosial, khususnya untuk mempercepat penurunan angka stunting.

“Permasalahan keluarga dimulai sejak usia dini, salah satunya adalah stunting. Ini ancaman serius bagi masa depan generasi kita,” ucap Puguh.

Selain itu, ia menyoroti masalah perkawinan dini, rendahnya akses pendidikan, dan perilaku menyimpang di kalangan remaja yang semakin menambah tantangan sosial di Kaltim.

Menurut data Survei Status Gizi Indonesia 2023, angka stunting di Kaltim tercatat meningkat dari 22,8 persen pada 2022 menjadi 23,9 persen.

“Ini menjadi alarm bagi kita semua. Target kita jelas, prevalensi stunting harus turun hingga 14 persen pada 2024,” terangnya.

Puguh berpendapat bahwa stunting tidak hanya masalah kesehatan tetapi juga masalah yang berkaitan dengan masa depan negara.

Anak yang tumbuh dengan kondisi stunting lebih rentan mengalami gangguan perkembangan, sehingga dapat mengurangi kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.

“Bagaimana kita bisa mencapai visi Indonesia Emas 2045 jika modal dasarnya terganggu? Oleh karena itu, upaya penanganan stunting harus dilakukan secara kolaboratif,” lanjutnya.

Puguh menegaskan bahwa program ini harus bekerja sama dengan baik dengan pemerintah, masyarakat, dan kelompok sosial.

“Masa depan kita bergantung pada aksi kolaboratif yang kita lakukan sekarang. Anak-anak yang kita rawat hari ini adalah mereka yang akan menjaga bangsa ini di masa depan,” terang Puguh. (adv)

Facebook Comments Box

Baca Selengkapnya

Relokasi Jangan Berhenti di Wacana, APBD Harus Punya Jalan Hukum

10 August 2026 - 14:51 WITA

Ketika Rumah Tak Lagi Aman, Negara Harus Berani Memindahkan Warga

10 August 2026 - 14:41 WITA

Teras Samarinda II Diminta Utamakan Kesiapan, Bukan Sekadar Kejar Target Buka

9 August 2026 - 20:09 WITA

DPRD Proyeksikan PAD Samarinda 2027 Tembus Rp1,5 Triliun

9 August 2026 - 20:04 WITA

Bankeu Belum Cair, DPRD Samarinda Soroti Kepastian Pembiayaan Proyek Pembangunan

8 August 2026 - 14:34 WITA

Trending on Advertorial