Fasenews.id – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, yang tengah melakukan kunjungan kerja, melangkah santai menuju Pasar Beringharjo, Selasa (17/3/2026). Waktu menunjukkan pukul 13.35 WIB.
Langkah Purbaya mendadak terhenti. Dua perempuan berkerudung menghampirinya. Bukan untuk swafoto atau sekadar bersalaman, melainkan membawa sesuatu yang lebih berat, kegelisahan.
Awalnya, interaksi berlangsung hangat. Sapaan dan jabat tangan menjadi pembuka yang sopan. Tapi suasana cepat berubah ketika salah satu dari mereka mulai berbicara, nada suaranya tegas, menyiratkan keresahan yang lama dipendam.
“Pak, tolong MBG dihentikan, pak. Tolong, pak. Dihentikan ya, pak. MBG itu nggak adil, pak. Banyak ketimpangan, pak. Kalau bisa diuangkan saja, pak,” ucapnya, tanpa jeda panjang.
Kalimat itu meluncur lugas, tanpa bahasa birokrasi, tanpa diksi yang dipoles. Sebuah kritik yang lahir dari pengalaman sehari-hari.
Rekannya menimpali, memperkuat keluhan dari sisi yang lebih personal. Ia bercerita tentang anaknya, yang justru tidak mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), program yang dirancang negara untuk meningkatkan kualitas gizi generasi muda.
“Bener, banyak yang komplain. Anak saya itu nggak mau makan MBG, pak. Tolong,” katanya.
Di tengah keramaian Malioboro, pernyataan itu terasa kontras. Program yang di atas kertas tampak solutif, di lapangan ternyata menyisakan cerita yang tak selalu selaras dengan tujuan awalnya.
Purbaya tidak bereaksi defensif. Ia tetap tenang. Senyum tipis menghiasi wajahnya, seolah mencoba menjaga ruang dialog tetap terbuka di tengah situasi spontan itu.
“Kita buat efektif saja ya. Nanti saya sampaikan ke Pak Presiden,” jawabnya singkat. Tidak ada perdebatan panjang. Tidak ada klarifikasi teknis. Hanya janji sederhana: menyampaikan.
(*)







