Menu

Dark Mode
Sehari Melepas Gawai, Menemukan Diri di Rimba Samarinda Merawat Pertiwi, DPC PDI Perjuangan Samarinda Tanam Pohon Buah di Kawasan Folder Kronologi Hilangnya Nadira Az-Zahra, Mahasiswi Telkom University Sempat Keluar dari Seluruh Grup WhatsApp Sebelum Tak Bisa Dihubungi Megawati Pimpin Langkah Strategis PDI Perjuangan Hadapi Ancaman El Nino, Ketahanan Air dan Pangan Jadi Prioritas Hearing Varia Niaga Ditunda, DPRD Samarinda Siapkan ‘Peta Merah-Kuning-Hijau’ untuk Bedah Kinerja Perusahaan DPRD Samarinda Dorong Revolusi Pengelolaan Sampah dari Rumah Tangga, Tekan Beban TPA Lewat Daur Ulang

News

MBG Terancam Jadi Pemborosan: 62 Juta Porsi Tak Dimakan, Potensi Kerugian Negara Tembus Rp1,27 Triliun per Pekan

badge-check


					MBG Terancam Jadi Pemborosan: 62 Juta Porsi Tak Dimakan, Potensi Kerugian Negara Tembus Rp1,27 Triliun per Pekan Perbesar

SAMARINDA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang sebagai investasi strategis peningkatan kualitas sumber daya manusia justru memunculkan alarm serius. Dalam satu pekan, diperkirakan sekitar 62 juta porsi MBG tidak dikonsumsi oleh penerima manfaat, memicu potensi pemborosan anggaran negara hingga Rp1,27 triliun per minggu.

Temuan tersebut diungkap dalam penelitian terbaru Center of Economic and Law Studies (CELIOS). Alih-alih memperbaiki asupan gizi siswa, program ini dinilai berisiko menjadi lubang kebocoran fiskal jika tata kelolanya tidak segera dibenahi.

Peneliti CELIOS, Isnawati Hidayah, menjelaskan bahwa berdasarkan survei yang dilakukan, penolakan siswa terhadap menu MBG tergolong tinggi. Faktor utamanya bukan semata soal selera, melainkan juga menyangkut kualitas rasa, kebersihan, serta kecukupan gizi.

“Ada potensi besar uang negara terbuang karena MBG dibuang. Anak-anak sering menolak karena rasa tidak sesuai, kebersihan kurang, dan kualitas gizi yang tidak memadai,” ujar Isnawati dalam jumpa pers virtual, Senin (23/2/2026).

CELIOS memetakan dua skenario pemborosan. Pada skenario minimal, potensi kerugian negara diperkirakan mencapai Rp622 miliar per pekan, sementara pada skenario maksimal angkanya melonjak hingga Rp1,27 triliun per pekan, terutama jika tingkat penolakan siswa semakin tinggi.

Jika dikalkulasikan secara bulanan, nilai tersebut dinilai mencengangkan. Dalam skenario minimal, dana yang terbuang setara dengan pembiayaan BPJS Kesehatan bagi 15,5 juta orang, sementara pada skenario maksimal dapat menanggung 31,6 juta peserta.

Perbandingan ini menegaskan besarnya peluang optimalisasi anggaran yang saat ini berisiko tergerus oleh implementasi program yang tidak efektif. Tujuan utama MBG meningkatkan gizi dan kesehatan siswa, berpotensi tidak tercapai, sementara anggaran negara tetap terserap dalam jumlah besar.

Temuan CELIOS sekaligus menjadi sorotan tajam terhadap tata kelola MBG. Selain persoalan menu dan rasa, aspek kebersihan serta standar gizi disebut menjadi penentu utama tingkat penerimaan siswa terhadap makanan yang disediakan.

Atas dasar itu, CELIOS merekomendasikan langkah tegas kepada pemerintah, mulai dari moratorium sementara MBG, reformasi menyeluruh desain dan pelaksanaan program, hingga audit yang transparan dan akuntabel.

Dengan potensi pemborosan yang menembus triliunan rupiah setiap pekan, evaluasi mendalam terhadap Program Makan Bergizi Gratis dinilai tidak lagi bisa ditunda. Tanpa pembenahan signifikan, program yang semestinya menjadi solusi gizi justru berisiko berubah menjadi beban fiskal besar bagi negara.

(*)

Facebook Comments Box

Baca Selengkapnya

Filosofi Di Balik Ritual Menginjak Kepala Kerbau dan Gelar Baginda Pemuka Bangsa Kepada Jokowi di Lampung

28 June 2026 - 11:46 WITA

Dugaan Korupsi Dadan Hindayana Eks Kepala BGN:  Rekayasa Mitra hingga Mark Up Anggaran

3 June 2026 - 17:05 WITA

Dadan Hindayana Dicopot Dari Jabatannya Sebagai Kepala BGN

2 June 2026 - 16:11 WITA

BGN Menembus Batas Negara: Wacanakan Layanan Gizi di Jeddah, Sasar Ribuan Siswa

2 June 2026 - 03:11 WITA

Seno Aji Bantah Tudingan Dalang Hak Angket terhadap Rudy Mas’ud

28 May 2026 - 14:50 WITA

Trending on News