Menu

Dark Mode
768 Pasang Pemain Siap Adu Strategi di Samarinda Domino Series 4, Road to Liga Pro Konferda PA GMNI Kaltim Digelar di Kutim, 10 DPC Disiapkan Menyatukan Gagasan untuk Masa Depan Daerah Moment Kemerdekaan, Ananda Ajak Masyarakat Lanjutkan Semangat Perjuangan Pendiri Bangsa Ratusan Siswa Tumbang Usai Santap MBG, Ujian Serius bagi Standar Keamanan Program Gizi Nasional DPRD Dorong Polder Air Hitam Jadi Ruang Publik dan Etalase UMKM DPRD Samarinda Dorong Kantor Pemerintahan Jadi Ruang Kerja Bebas Vape

Advertorial

Anggaran Terbatas, Samarinda Ditantang Ciptakan Wisata Berkelas dari Kekuatan Lokal

badge-check


					Anggota Komisi II DPRD Samarinda, Rusdi Doviyanto Perbesar

Anggota Komisi II DPRD Samarinda, Rusdi Doviyanto

SAMARINDA – Pariwisata Samarinda kini dihadapkan pada satu tantangan besar, yaitu bagaimana menciptakan destinasi yang mampu membuat wisatawan tinggal lebih lama di Kota Tepian, di tengah ruang fiskal pemerintah yang masih terbatas.

Persoalan tersebut dinilai tidak semata-mata dapat diselesaikan dengan membangun destinasi baru. Samarinda justru membutuhkan keberanian untuk mengemas potensi yang telah dimiliki menjadi pengalaman wisata yang lebih bernilai, konsisten, dan memiliki karakter kuat.

Anggota Komisi II DPRD Samarinda, Rusdi Doviyanto, menilai kondisi geografis Samarinda sebagai kota perkotaan harus menjadi pijakan dalam merancang arah pengembangan pariwisata.

Berbeda dengan sejumlah daerah di Kalimantan Timur yang memiliki bentang alam luas sebagai modal utama wisata, Samarinda memiliki kekuatan pada kehidupan perkotaan, ruang publik, seni, budaya, serta aktivitas masyarakat yang dapat dikembangkan menjadi magnet wisata.

“Dengan anggaran yang terbatas, pemerintah memang menghadapi tantangan untuk membangun destinasi baru. Karena itu, diperlukan strategi dan dukungan dari berbagai pihak agar pengembangan wisata tetap berjalan,” kata Rusdi, Kamis (29/7/2026).

Menurutnya, keberadaan Teras Samarinda menjadi contoh bagaimana ruang kota dapat dikembangkan menjadi tempat rekreasi sekaligus ruang interaksi masyarakat. Namun, keberhasilan satu destinasi tidak cukup apabila Samarinda ingin membangun ekosistem pariwisata yang lebih kuat.

Kota ini membutuhkan lebih banyak pilihan.

Bukan hanya agar wisatawan memiliki alternatif tujuan, tetapi juga supaya kunjungan ke Samarinda tidak berhenti dalam hitungan jam. Semakin banyak pengalaman yang dapat ditawarkan, semakin besar peluang wisatawan memperpanjang waktu tinggal dan membelanjakan uangnya di sektor lokal.

“Kalau pilihan wisatanya terbatas, wisatawan bisa saja datang ke satu tempat lalu kembali. Kita perlu membuat lebih banyak alternatif sehingga mereka bisa menghabiskan waktu lebih lama di Samarinda,” tuturnya.

Pampang dan Masa Depan Wisata Berbasis Cerita

Di tengah keterbatasan anggaran pembangunan fisik, Rusdi melihat Desa Budaya Pampang sebagai salah satu aset yang dapat dikembangkan dengan pendekatan berbeda.

Bukan sekadar mempercantik kawasan, tetapi memperkuat cerita budaya yang menjadi identitasnya.

Pertunjukan seni dan budaya, kata dia, dapat dikemas lebih teratur melalui agenda yang memiliki jadwal tetap. Dengan kalender pertunjukan yang konsisten, Pampang berpeluang menjadi destinasi yang dapat direncanakan wisatawan, bukan hanya dikunjungi ketika ada acara tertentu.

“Kalau kegiatan budaya dilakukan secara rutin dan terjadwal, wisatawan akan lebih mudah mengetahui kapan mereka bisa datang dan menikmati pertunjukan. Ini bisa menjadi kekuatan tersendiri bagi Pampang,” jelasnya.

Konsep tersebut sekaligus membuka peluang agar masyarakat lokal menjadi bagian utama dari rantai ekonomi pariwisata. Mulai dari pelaku seni, UMKM, kuliner, kerajinan hingga jasa pendukung wisata dapat memperoleh ruang untuk tumbuh.

Rusdi menegaskan, pengembangan wisata budaya tidak boleh berhenti pada peningkatan jumlah kunjungan. Pemerintah harus memastikan hadirnya manfaat ekonomi yang nyata bagi masyarakat di sekitar destinasi.

Karena itu, regulasi dan pola pengelolaan menjadi bagian penting yang tidak boleh diabaikan. Pemerintah perlu memperjelas bentuk kerja sama serta pembagian peran antara pemerintah, masyarakat adat dan sektor swasta.

Saat Fiskal Terbatas, Kolaborasi Menjadi Modal

Rusdi berpandangan keterbatasan anggaran tidak seharusnya membuat sektor pariwisata kehilangan arah. Sebaliknya, kondisi tersebut dapat menjadi momentum bagi Pemkot Samarinda untuk mengubah pola pengembangan wisata dari yang bertumpu pada belanja pemerintah menuju model kolaboratif.

Investasi swasta, keterlibatan komunitas, pelaku UMKM hingga masyarakat adat dapat menjadi kekuatan tambahan dalam membangun ekosistem pariwisata.

Dengan pendekatan tersebut, pembangunan wisata tidak selalu harus identik dengan proyek fisik berskala besar. Penguatan agenda budaya, promosi, pengelolaan destinasi dan penciptaan pengalaman wisata yang konsisten juga dapat menjadi instrumen penting.

Bagi Rusdi, Samarinda memiliki peluang untuk membangun wajah pariwisata yang berbeda. Bukan dengan meniru destinasi daerah lain, melainkan dengan menjadikan karakter kota dan kekayaan budaya lokal sebagai identitas utama.

“Jika dikelola secara serius, pariwisata dapat menjadi salah satu penggerak ekonomi baru di Samarinda, sekaligus membuka peluang usaha dan meningkatkan kontribusi sektor tersebut terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD),” tukasnya.

(ADV/DPRD Samarinda)

Facebook Comments Box

Baca Selengkapnya

DPRD Dorong Polder Air Hitam Jadi Ruang Publik dan Etalase UMKM

7 August 2026 - 18:49 WITA

DPRD Samarinda Dorong Kantor Pemerintahan Jadi Ruang Kerja Bebas Vape

6 August 2026 - 19:08 WITA

DPRD Samarinda Ingin Pasar Rakyat Naik Kelas, Tak Lagi Sekadar Tempat Jual Beli

4 August 2026 - 19:04 WITA

Terowongan Samarinda Tinggal Menunggu “Lampu Hijau”, DPRD Tekankan Keselamatan Sebelum Dibuka

4 August 2026 - 08:33 WITA

DPRD Samarinda Dorong Dapur Gizi Jadi Etalase Produk Lokal

3 August 2026 - 08:08 WITA

Trending on Advertorial