SAMARINDA – Folder Air Hitam perlahan menjelma menjadi salah satu ruang publik yang kian hidup di Kota Samarinda. Dari aktivitas olahraga, kuliner, hingga warga yang menjadikannya tempat bersantai, kawasan tersebut kini memiliki denyut aktivitas yang jauh lebih tinggi.
Namun, geliat itu membawa konsekuensi baru. Keterbatasan lahan parkir membuat sebagian pengunjung harus menepikan kendaraan di sisi jalan. Jika tidak segera ditata, kondisi tersebut berpotensi mengganggu kelancaran lalu lintas sekaligus mengurangi kenyamanan kawasan.
Anggota Komisi III DPRD Kota Samarinda, Abdul Rohim, melihat persoalan tersebut bukan semata sebagai masalah kekurangan lahan, melainkan momentum bagi Pemerintah Kota Samarinda untuk kembali melihat potensi aset yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
Menurutnya, pemerintah tidak selalu harus mengambil jalan panjang dengan membangun fasilitas baru. Aset daerah yang berada di sekitar kawasan publik justru dapat menjadi pilihan strategis apabila secara teknis dan administratif memungkinkan.
“Daripada aset milik pemerintah dibiarkan kosong atau tidak digunakan secara optimal, lebih baik dikaji pemanfaatannya untuk kebutuhan parkir masyarakat,” kata Rohim, Kamis (28/7/2026).
Salah satu aset yang menurutnya layak masuk dalam kajian adalah bangunan olahraga bulu tangkis yang berada di sekitar kawasan Folder Air Hitam. Pemanfaatannya tentu perlu melalui kajian menyeluruh, baik dari sisi fungsi, legalitas maupun kebutuhan masyarakat.
Bagi Rohim, gagasan tersebut bukan sekadar menghadirkan tempat untuk menitipkan kendaraan. Lebih jauh, penataan parkir merupakan bagian dari upaya membangun kawasan publik yang tertib, nyaman dan memiliki tata kelola yang sejalan dengan pertumbuhan aktivitas masyarakat.
Ia mengingatkan, ketika sebuah ruang publik berkembang menjadi pusat keramaian, fasilitas pendukung semestinya ikut tumbuh. Jangan sampai keberhasilan menghidupkan kawasan justru melahirkan persoalan baru di ruas jalan sekitarnya.
“Ketika kawasan menjadi pusat kegiatan warga, kebutuhan parkir harus ikut dihitung. Jangan sampai aktivitasnya semakin ramai, tetapi kendaraan justru memenuhi ruas jalan,” ujarnya.
Menurut Rohim, optimalisasi aset juga memiliki nilai strategis dari sisi efisiensi anggaran. Ketimbang pemerintah harus mencari dan membebaskan lahan baru dengan konsekuensi biaya yang tidak sedikit, aset yang telah dimiliki dapat terlebih dahulu dipetakan untuk melihat kemungkinan pemanfaatannya.
Ia pun mendorong Pemkot Samarinda melakukan inventarisasi terhadap aset-aset daerah yang belum memiliki fungsi maksimal.
“Pemkot perlu melihat kembali aset-aset yang ada. Kalau ada lahan atau bangunan yang tidak sedang digunakan, bisa dikaji apakah memungkinkan dialihkan fungsinya untuk mendukung kebutuhan parkir,” jelasnya.
Folder Air Hitam sendiri kini memiliki wajah yang semakin beragam. Kawasan tersebut tidak hanya menjadi ruang aktivitas olahraga, tetapi juga berkembang sebagai titik berkumpul masyarakat dengan hadirnya pelaku UMKM, aktivitas kuliner serta kegiatan warga yang berlangsung hingga sore dan malam hari.
Perubahan karakter kawasan itulah yang menurut Rohim perlu direspons melalui perencanaan yang lebih terpadu. Parkir tidak semestinya dipandang sebagai fasilitas pelengkap belaka, melainkan bagian penting dari desain sebuah ruang publik.
Kantong parkir yang tertata, kata dia, dapat menjadi solusi dua sisi. Di satu sisi menjaga kendaraan agar tidak mengambil ruang badan jalan, sementara di sisi lain memberikan pengalaman yang lebih nyaman bagi masyarakat yang datang menikmati kawasan tersebut.
Rohim berharap Pemkot Samarinda tidak sekadar melihat Folder Air Hitam dari sisi fungsi utamanya, tetapi mulai menata kawasan tersebut sebagai ruang publik yang memiliki ekosistem lengkap.
“Folder Air Hitam sudah menjadi salah satu tempat yang banyak dikunjungi warga. Karena itu, fasilitas pendukungnya juga harus mengikuti perkembangannya. Aset pemerintah yang belum optimal bisa menjadi salah satu solusi untuk kebutuhan parkir,” pungkasnya.
(ADV/DPRD Samarinda)











