Menu

Dark Mode
Moment Kemerdekaan, Ananda Ajak Masyarakat Lanjutkan Semangat Perjuangan Pendiri Bangsa Ratusan Siswa Tumbang Usai Santap MBG, Ujian Serius bagi Standar Keamanan Program Gizi Nasional DPRD Dorong Polder Air Hitam Jadi Ruang Publik dan Etalase UMKM DPRD Samarinda Dorong Kantor Pemerintahan Jadi Ruang Kerja Bebas Vape DPRD Samarinda Ingin Pasar Rakyat Naik Kelas, Tak Lagi Sekadar Tempat Jual Beli Mengenang Peristiwa Kudatuli, Ananda: Demokrasi Tak Lahir di Atas Karpet Merah Kekuasaan

Advertorial

DPRD Samarinda Dorong Peran Mahasiswa sebagai Penjaga Arah Pembangunan

badge-check


					Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Sri Puji Astuti. (Foto : MR) Perbesar

Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Sri Puji Astuti. (Foto : MR)

SAMARINDA – Pembangunan daerah tidak semestinya hanya menjadi urusan pemerintah dan lembaga legislatif. Di tengah dinamika kebijakan publik yang terus berkembang, mahasiswa dinilai memiliki posisi strategis untuk memastikan setiap kebijakan tetap berpijak pada kepentingan masyarakat.

Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti, mendorong kalangan mahasiswa untuk memperkuat perannya sebagai kekuatan intelektual sekaligus kontrol sosial dalam mengawal arah pembangunan Kota Tepian.

Menurut Puji, mahasiswa memiliki modal yang tidak dimiliki semua kelompok masyarakat, yakni tradisi akademik, kemampuan mengkaji persoalan secara kritis, serta keberanian menyampaikan pandangan terhadap kebijakan publik.

Karena itu, menurutnya, ruang kontribusi mahasiswa tidak seharusnya berhenti pada aksi kritik atau menyampaikan protes. Lebih jauh, mahasiswa dapat ikut mengawasi pelaksanaan program pemerintah, melakukan kajian, hingga menawarkan gagasan sebagai bahan evaluasi kebijakan.

“Mahasiswa memiliki peran penting sebagai agen perubahan. Mereka tidak hanya mengkritisi, tetapi juga bisa ikut mengawal dan mengawasi agar kebijakan yang dijalankan benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” kata Puji, Rabu (17/6/2026).

Ia menilai, keberadaan mahasiswa sebagai kelompok kritis justru dapat menjadi energi positif bagi DPRD dalam menjalankan fungsi pengawasan. Kritik yang disertai kajian dan argumentasi, kata dia, dapat memperkaya sudut pandang dalam melihat persoalan pembangunan.

Bagi Puji, pembangunan yang berjalan tanpa kontrol publik berpotensi menciptakan jarak antara kebijakan pemerintah dan kebutuhan riil masyarakat. Di titik inilah mahasiswa dinilai memiliki peran penting untuk menghadirkan perspektif alternatif dari lingkungan akademik sekaligus realitas yang ditemui di tengah masyarakat.

“DPRD hadir karena mendapat amanah dan kepercayaan dari masyarakat. Karena itu, kritik dan pengawasan dari mahasiswa menjadi hal yang positif untuk memastikan amanah tersebut dijalankan dengan baik,” jelasnya.

Puji juga mendorong mahasiswa agar tidak hanya menjadikan isu pemerintahan sebagai objek kritik, tetapi ikut turun menyentuh berbagai persoalan sosial yang berkembang di masyarakat.

Isu kepemudaan, pemberdayaan warga, peningkatan kapasitas generasi muda, hingga keterlibatan perempuan dalam politik, menurutnya, merupakan ruang yang terbuka luas bagi mahasiswa untuk berkontribusi.

Keterlibatan tersebut dapat diwujudkan melalui penelitian, edukasi masyarakat, pendampingan, maupun advokasi. Dengan pendekatan itu, mahasiswa bukan hanya menyuarakan persoalan, tetapi turut membantu mempertemukan kebutuhan masyarakat dengan para pengambil kebijakan.

“Mahasiswa harus tetap kritis dan hadir di tengah masyarakat. Mereka bisa menjadi mitra dalam mengawal berbagai persoalan sosial sekaligus memastikan kebijakan yang dibuat benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat luas,” tuturnya.

Ia berharap tradisi berpikir kritis di kalangan mahasiswa tidak kehilangan relevansinya di tengah perubahan sosial dan pembangunan kota yang semakin kompleks.

Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, DPRD, akademisi, mahasiswa, dan masyarakat menjadi salah satu fondasi penting untuk membangun tata kelola pemerintahan yang transparan dan akuntabel.

Dengan posisi tersebut, mahasiswa tidak hanya ditempatkan sebagai penonton pembangunan ataupun pihak yang datang ketika kebijakan menuai persoalan. Mereka justru diharapkan hadir sejak proses gagasan, pengawasan, hingga evaluasi kebijakan.

“Ketika mahasiswa mampu menjaga sikap kritis sekaligus menawarkan solusi, maka keberadaan mereka akan menjadi kekuatan penting dalam mendorong pembangunan yang lebih responsif, partisipatif, dan berpihak pada kesejahteraan masyarakat,” pungkas Puji.

(ADV/DPRD Samarinda)

Facebook Comments Box

Baca Selengkapnya

DPRD Dorong Polder Air Hitam Jadi Ruang Publik dan Etalase UMKM

7 August 2026 - 18:49 WITA

DPRD Samarinda Dorong Kantor Pemerintahan Jadi Ruang Kerja Bebas Vape

6 August 2026 - 19:08 WITA

DPRD Samarinda Ingin Pasar Rakyat Naik Kelas, Tak Lagi Sekadar Tempat Jual Beli

4 August 2026 - 19:04 WITA

AI Masuk Sekolah, DPRD Samarinda Ingatkan Jangan Kejar Tren Tanpa Kesiapan

20 July 2026 - 17:54 WITA

Event Rutin Jadi Motor Ekonomi, Joha Fajal Dorong Samarinda Perkuat Magnet Wisata Kota

20 July 2026 - 05:22 WITA

Trending on Advertorial