Menu

Dark Mode
Bakal Ada Tambahan Kuota P3K di Kukar Sebanyak 5.776 Orang, 574 Diantaranya Tenaga Guru Gerimis Tak Jadi Penghalang Pengambilan Sumpah 2.300 Pegawai P3K di Lingkup Pemkab Kukar Kunjungi 5 Balita Penderita Stunting Dari Muara Enggelam, Pemkab Kukar Komitmen Penanganan Stunting Jadi Prioritas Pemkab Kukar Capai Target Program 25 Ribu Nelayan Produktif

News

Kaltim Kekurangan Dua Ribu Dokter, Dokter yang Ada Cuma Terkonsentrasi di Kota

badge-check


					Anggota DPRD Kaltim Andi Satya Adi Saputra/ fasenews.id Perbesar

Anggota DPRD Kaltim Andi Satya Adi Saputra/ fasenews.id

FASENEWS.ID, SAMARINDA – Anggota DPRD Kaltim Andi Satya Adi Saputra mengatakan jumlah dokter di Kalimantan Timur masih tergolong kurang. Bahkan bisa dikatakan jauh dari standar yang ditetapkan oleh World Health Organization (WHO).

Jumlah ideal dokter jika merujuk pada standar WHO adalah 1:1000 (1 dokter per 1.000 penduduk). Sementara penduduk Kaltim pada pertengahan 2024 sudah sebanyak 4.050.079 jiwa. Kini baru memiliki sekitar 2.000 dokter.

“Kita masih kekurangan dokter hampir 50% dari kebutuhannya menurut standar WHO,”katanya kepada media, Rabu (06/11/2024).

Artinya Kaltim masih perlu hingga 2.000 dokter lagi.

Hal ini jadi persoalan serius di bidang kesehatan di Banua Etam. Di tengah kondisi itu, sebarannya juga tidak merata.

Politisi yang berlatar belakang dokter ini mengungkapkan, dari 2.000 dokter yang ada, 80 persen-nya hanya terkonsentrasi di tiga kota besar seperti Balikpapan, Samarinda dan Bontang.

Hal itu menurutnya terjadi karena fasilitas dan insentif yang didapat di kota jauh lebih menarik. Dia mencontohkan seperti gaji yang lebih tinggi, kemudian rumah dinas, hingga peluang pengembangan karier yang lebih luas.

Lantas bagaimana masyarakat di wilayah terpencil untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dan ketersediaan dokter yang memadai.

Adanya ketimpangan itu kata dia merupakan persoalan serius yang membutuhkan perhatian dari berbagai pihak. Andi Satya mendorong agar pemerintah daerah perlu segera mengambil langkah konkret untuk menyelesaikannya.

Sebab mendapatkan layanan kesehatan yang berkualitas adalah hak dasar setiap warga negara tanpa harus memandang satus daerah perkotaan maupun terpencil.

Dirinya pun mencontohkan seperti upaya yang dilakukan Pemkot Bontang masa kepemimpinan Bunda Neni.

Kala itu disediakan insentif besar, memicu membludaknya dokter spesialis yang berdatangan.

Menurut Andi Satya, langkah seperti itu mestinya dilakukan pemerintah provinsi sebagai upaya pemerataan tenaga kesehatan di seluruh wilayah Kaltim.

“Karena ini kan urusan piring nasi. Jadi kalau piring nasinya tidak disediakan dengan baik, ini jadi masalah kesejahteraan mereka,”ungkapnya.

Lebih lanjut dia bilang dengan memperhatikan kesejahteraan maka tidak bisa ditawar lagi, dokter itu akan mau meskipun di daerah terpencil.

“Kalau kesejahteraannya terjamin, fasilitas yang bagus, untuk infrastrukturnya menjamin, suasana kerjanya baik, akses jalan ke sana bagus. Apalagi ditambah ada insentif. Jadi memang kalau misalnya itu daerahnya terpencil. Mau tidak mau pemerintahnya harus hadir memberikan intensif lebih. Seperti contohnya di Bontang,”pungkasnya. (fran)

Facebook Comments Box

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Menantang Batas Manusia: Kirana Larasati Sejarah Baru Perempuan Indonesia, Menyelam Hingga 127 Meter di Bawah Laut

4 March 2026 - 10:22 WIB

Penyakit Kronis, Disabilitas yang Tak Kasat Mata Kini Diakui Negara

3 March 2026 - 22:06 WIB

MBG Terancam Jadi Pemborosan: 62 Juta Porsi Tak Dimakan, Potensi Kerugian Negara Tembus Rp1,27 Triliun per Pekan

3 March 2026 - 06:55 WIB

INSKA FEST 2026 Hadir sebagai Ruang Ekspresi Kreatif Pelajar Samarinda

26 February 2026 - 11:45 WIB

Dari Kertas Bekas Jadi Karya Bernilai: Edukasi Lingkungan Lewat PENDIKRESA Bersama Anak Usia Dini

14 January 2026 - 10:52 WIB

Trending on News