FASENEWS.ID – Indonesia Fact Checking Summit (IFCS) kembali digelar pada tahun 2024 dengan tema “Mengatasi Gangguan Informasi, Merawat Ruang Demokrasi.” Acara ini diselenggarakan oleh Koalisi Cek Fakta yang melibatkan Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), Aliansi Jurnalis Independen (AJI), dan Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) di Hotel Lumire, Jakarta, pada Kamis (7/11/2024).
Tujuan utama dari perhelatan ini adalah untuk menciptakan lingkungan informasi yang sehat, sekaligus menjaga ketenangan dan keakuratan informasi menjelang Pilkada 2024.
IFCS 2024 menggelar talk show dalam dua sesi, masing-masing dengan tema yang berbeda.
Sesi pertama mengangkat tema “Strategi Menjaga Demokrasi dalam Mengatasi Gangguan Informasi Menjelang Pilkada di Era Digital,” sementara sesi kedua berfokus pada “Sinergi Jejaring Periksa Fakta Regional untuk Memperkuat Gerakan Cek Fakta Global.”
Dalam sesi pertama dipandu oleh Febrina Galuh Permanasari, Direktur Eksekutif AJI, ia mengungkapkan bahwa derasnya arus informasi di era digital menjelang Pilkada membawa tantangan tersendiri.
“Kita menghadapi risiko besar berupa hoaks, yang dapat mempengaruhi opini publik,” ujarnya
Menurut data Litbang Mafindo, pada semester pertama 2024, tercatat lebih dari 2.000 hoaks, dengan 30% di antaranya terkait Pemilu.
Pada sesi ini, beberapa isu penting yang dibahas mencakup antisipasi terhadap platform digital yang menghadirkan informasi bersifat sangat lokal, seperti ujaran kebencian yang berpotensi menimbulkan konflik dan polarisasi di masyarakat.
Google, sebagai salah satu platform besar, turut menghadapi tantangan dalam memitigasi penyebaran konten negatif di level lokal yang dapat berdampak luas.
Di sisi lain, Komisi Pemilihan Umum (KPU) berupaya menjaga transparansi dan aksesibilitas informasi pemilu bagi masyarakat, terutama melalui platform digital, agar pemilu tetap terlaksana dengan jujur dan adil.
Pada kesempatan yang sama, Yos Kusuma dari Google News Partnership menjelaskan langkah-langkah yang dilakukan Google untuk mengantisipasi penyebaran hoaks di masa pemilu.
“Kami bekerja sama dengan pemerintah dan pihak terkait untuk memastikan keamanan informasi, terutama di platform digital seperti Google Search dan Google News,” kata Yos.
Google telah melakukan penyesuaian agar konten lokal yang kredibel lebih mudah diakses masyarakat sesuai dengan wilayahnya.
“Kolaborasi lintas tim dan sinergi bersama pemangku kepentingan menjadi kunci dalam menjaga literasi informasi,” tambahnya.
Sementara itu, August Mellaz, anggota KPU RI, menegaskan bahwa pihaknya terus berupaya memastikan aksesibilitas informasi pemilu yang akurat bagi masyarakat.
Ia menekankan pentingnya kerja sama antara KPU, masyarakat sipil, dan berbagai platform digital dalam menyebarkan informasi yang benar.
“KPU secara aktif menyediakan informasi-informasi relevan di website resmi kami, yang kemudian disebarluaskan ke berbagai daerah untuk mendukung jalannya Pilkada yang damai dan demokratis,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi inisiatif masyarakat sipil dalam menjaga ruang demokrasi yang sehat melalui penyediaan konten digital yang benar dan faktual.
IFCS 2024 menjadi ruang penting bagi para pemangku kepentingan untuk bersinergi melawan hoaks dan menguatkan demokrasi di Indonesia.
Upaya bersama ini diharapkan dapat memperkecil peluang penyebaran informasi yang menyesatkan dan mendukung masyarakat dalam membuat keputusan yang tepat di tengah derasnya arus informasi digital. (ale)







