SAMARINDA – Ditangan anak usia dini, limbah kertas itu berubah jadi karya penuh makna. Bersama mentor dari anak muda, mengajak tangan-tangan mungil itu dengan imajinasi tanpa batas. Limbah kertas disulap menjadi berbagai bentuk bernilai guna, mulai dari kerajinan tangan hingga hiasan edukatif.
Di sebuah sudut ruang sederhana, berlokasi di jalan anggur, kelurahan Sidodadi, Samarinda Ulu, suara gunting berpadu dengan tawa riang anak-anak. Mereka asyik merobek, menempel, dan mewarnai potongan kertas bekas. Seolah tak ada jijik soal sampah di wajah mereka. Yang ada hanyalah rasa penasaran dan kebanggaan saat melihat hasil karya perlahan terbentuk.
Disanalah Pertamina Parta Niaga Fuel Terminal Samarinda melalui program Community Development (Comdev) menghadirkan Pendikresa (Pendidikan dan Kreativitas Anak) yang disebut Recycle Room dengan anggota sebanyak 7 orang anak muda. Giat ini jadi sebuah ruang belajar kreatif yang kerap kali mengajak anak-anak dan sekolah mitra untuk mengenal pengelolaan limbah sejak dini.
Penggagas kegiatan daur ulang, Yurni Handayani mengatakan program ini menjadi media belajar yang menyenangkan bagi anak-anak. Mereka dikenalkan pada pentingnya menjaga lingkungan sejak dini, sekaligus dilatih untuk kreatif memanfaatkan barang yang dianggap tak bernilai.
“Kertas bekas dari buku tulis, koran, hingga kemasan, dikumpulkan lalu diolah kembali menjadi berbagai kreativitas seperti kalender, bunga hias, tiket gelang, pulpen up hingga kerajinan edukatif lainnya.
Yurni bilang Program ini dirancang sebagai media pembelajaran kontekstual yang menumbuhkan kreativitas, kepedulian lingkungan, serta jiwa kewirausahaan sejak usia dini. Hasilnya, anak-anak mampu memahami bahwa sampah bukan akhir dari sebuah barang, melainkan awal dari nilai baru.
Dampak program PENDIKRESA dirasakan langsung oleh kelompok binaan. Anak-anak menjadi lebih peka terhadap isu lingkungan, terbiasa memilah sampah, serta bangga memamerkan karya hasil olahan mereka. Bahkan, beberapa produk hasil daur ulang kertas telah dimanfaatkan sebagai media kampanye lingkungan dan memiliki nilai jual yang mendukung keberlanjutan program.
Salah satu peserta Pendikresa, Keisha Nazmi Azzahra turut mengungkapkan mengungkapkan kegembiraannya,”Saya senang bikin hiasan dari kertas bekas. Ternyata sampah bisa jadi barang yang bagus dan bisa dijual,”ungkapnya.
Sebagai penguatan program, Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Samarinda juga tengah menyiapkan pengembangan pengolahan limbah plastik pada tahun 2026 ini. Limbah plastik akan diolah menjadi bahan alternatif bernilai guna, sekaligus menjadi bagian dari skema tabungan sampah bagi para nasabah bank sampah. Skema ini diharapkan mampu mendorong pengelolaan sampah plastik yang lebih sistematis, sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Pertamina menegaskan bahwa PENDIKRESA bukan hanya program edukasi, tetapi investasi jangka panjang untuk membentuk generasi yang sadar lingkungan dan kreatif. Febrianti menyampaikan bahwa melalui pendekatan pendidikan dan praktik langsung, Pertamina ingin menanamkan nilai keberlanjutan yang tumbuh bersama anak-anak dan masyarakat.
Program ini dijalankan melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari sekolah, komunitas pendidikan, kelompok masyarakat, relawan, hingga pemerintah setempat. Keterlibatan banyak pihak menjadi kekuatan utama agar PENDIKRESA dapat terus berkembang dan memberi dampak nyata bagi lingkungan dan generasi masa depan.
Sebagai bagian dari praktik program berkelanjutan, Pertamina terus mengintegrasikan program Comdev dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Melalui PENDIKRESA, Pertamina mendorong terciptanya nilai bersama, di mana keberlanjutan lingkungan, pemberdayaan masyarakat, dan pertumbuhan bisnis berjalan selaras untuk masa depan yang lebih hijau.
(Fran)


