Menu

Dark Mode
Bakal Ada Tambahan Kuota P3K di Kukar Sebanyak 5.776 Orang, 574 Diantaranya Tenaga Guru Gerimis Tak Jadi Penghalang Pengambilan Sumpah 2.300 Pegawai P3K di Lingkup Pemkab Kukar Kunjungi 5 Balita Penderita Stunting Dari Muara Enggelam, Pemkab Kukar Komitmen Penanganan Stunting Jadi Prioritas Pemkab Kukar Capai Target Program 25 Ribu Nelayan Produktif

News

Nenek Yonih Lansia Meninggal Dunia Usai Antre LPG 3 Kg, Warga Sebut Sempat Bawa 2 Tabung Gas Kosong 

badge-check


					Kolase kursi berbaris di dekat kediaman Nenek Yonih/ fasenews.id Perbesar

Kolase kursi berbaris di dekat kediaman Nenek Yonih/ fasenews.id

FASENEWS.ID – Kesedihan menyelimuti warga Jalan Beringin, Pamulang Barat, Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan, setelah kepergian Nenek Yonih (62).

Nenek Yonih meninggal dunia setelah mengantre gas elpiji 3 kg pada Senin (3/2/2025).

Kepergian Nenek Yonih tak hanya meninggalkan duka bagi keluarga, tetapi juga bagi para tetangganya yang mengenal baik sosoknya.

Sehari-hari, Nenek Yonih dikenal sebagai pedagang nasi uduk.

Warungnya menjadi tempat andalan warga sekitar untuk menikmati sarapan pagi. Selain nasi uduk, ia juga menjual gorengan, lontong, dan kopi yang menjadi favorit banyak pelanggan.

Ketua RT 001, RW 007 Pamulang Barat, Saiful, mengungkapkan bahwa almarhumah sudah lama berjualan di lingkungan tersebut.

“Kami warga di sini sangat kehilangan. Warungnya selalu ramai, dan banyak dari kami yang sarapan di sana,” ujarnya diwawancara awak media.

Senada dengan Saiful, Ketua RW 007, Nurhadi, mengaku sering menikmati sarapan dan kopi di warung Nenek Yonih.

Menurutnya, almarhumah adalah sosok yang dikenal baik oleh warga sekitar.

“Di sini semua sudah seperti keluarga, dan Nenek Yonih adalah bagian dari itu,” kata Nurhadi.

Menurut keterangan warga, Yonih mengantre gas elpiji di lokasi yang berjarak sekitar 500 meter dari rumahnya.

Seorang warga bernama Rohaya mengatakan bahwa pada pagi hari, ia masih sempat berbincang dengan Yonih yang saat itu membawa dua tabung gas kosong.

Yonih sempat diminta kembali ke rumah karena pembelian gas bersubsidi harus menggunakan Kartu Tanda Penduduk (KTP). Setelah mengambil KTP, ia kembali mengantre dan beristirahat sejenak di sebuah tempat laundry dekat pangkalan gas.

Setelah mendapatkan gas, ia dijemput oleh menantunya.

Namun, setibanya di rumah, Yonih tiba-tiba pingsan. Keluarga segera membawanya ke Rumah Sakit Permata, namun nyawanya tak tertolong. “Dia sempat mengucapkan ‘Allahu Akbar’ beberapa kali sebelum akhirnya tak sadarkan diri,” ungkap Rohaya.

Kabar meninggalnya Yonih meninggalkan duka mendalam bagi warga sekitar yang telah lama mengenalnya.

Ia bukan hanya seorang pedagang, tetapi juga bagian dari kehidupan sosial di lingkungannya.

Kepergiannya menjadi pengingat akan pentingnya perhatian terhadap kondisi fisik, terutama bagi para lanjut usia yang masih harus beraktivitas di luar rumah. (as)

Facebook Comments Box

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Menantang Batas Manusia: Kirana Larasati Sejarah Baru Perempuan Indonesia, Menyelam Hingga 127 Meter di Bawah Laut

4 March 2026 - 10:22 WIB

Penyakit Kronis, Disabilitas yang Tak Kasat Mata Kini Diakui Negara

3 March 2026 - 22:06 WIB

MBG Terancam Jadi Pemborosan: 62 Juta Porsi Tak Dimakan, Potensi Kerugian Negara Tembus Rp1,27 Triliun per Pekan

3 March 2026 - 06:55 WIB

INSKA FEST 2026 Hadir sebagai Ruang Ekspresi Kreatif Pelajar Samarinda

26 February 2026 - 11:45 WIB

Dari Kertas Bekas Jadi Karya Bernilai: Edukasi Lingkungan Lewat PENDIKRESA Bersama Anak Usia Dini

14 January 2026 - 10:52 WIB

Trending on News