Menu

Dark Mode
Bakal Ada Tambahan Kuota P3K di Kukar Sebanyak 5.776 Orang, 574 Diantaranya Tenaga Guru Gerimis Tak Jadi Penghalang Pengambilan Sumpah 2.300 Pegawai P3K di Lingkup Pemkab Kukar Kunjungi 5 Balita Penderita Stunting Dari Muara Enggelam, Pemkab Kukar Komitmen Penanganan Stunting Jadi Prioritas Pemkab Kukar Capai Target Program 25 Ribu Nelayan Produktif

Politik

Mayor Teddy Ungkap Alasan Erdogan Meninggalkan Ruangan Saat Prabowo Pidato di KTT D-8

badge-check


					Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia, dalam Kunjungan Kenegaraan di Mesir/ Foto: Instagram @prabowo Perbesar

Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia, dalam Kunjungan Kenegaraan di Mesir/ Foto: Instagram @prabowo

FASENEWS.ID – Sekretaris Kabinet (Seskab) Mayor Teddy Indra Wijaya memberikan klarifikasi mengenai isu yang beredar tentang Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan yang diduga melakukan “walk out” saat Presiden RI Prabowo Subianto berpidato di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) D-8 di Kairo, Mesir.

Menurut Teddy, Erdogan sebenarnya meminta izin untuk berbicara lebih dulu karena harus kepergiannya tersebut.

“Oh, ya enggak lah,” ujar Teddy di Istana Kepresidenan RI, Jakarta pada Senin (23/12/2024).

Dilansir dari Megakaltim.com, Presiden Prabowo seharusnya menjadi pembicara pertama di sesi kedua.

Namun, Presiden Erdogan meminta izin kepada Presiden Prabowo untuk mengubah urutan pidato di sesi kedua karena harus segera meninggalkan lokasi pleno.

“Itu terjadi pada sesi kedua KTT D-8 yang khusus membahas soal Gaza dan Lebanon. Seharusnya, Presiden Prabowo yang berbicara terlebih dahulu, seperti di sesi pertama,” ujar Teddy.

“Tetapi, Presiden Erdogan meminta izin untuk menukar giliran pidato sebab harus meninggalkan pleno lebih awal,” tambahnya.

Oleh karena itu, Presiden Erdogan memberikan pidato lebih dulu, yang kemudian diikuti oleh pidato Presiden Prabowo.

Sebelum Presiden Prabowo mulai berpidato, Presiden Erdogan meminta izin dan dengan sopan menyampaikan permohonan maaf karena harus meninggalkan ruang Pleno.

“Jadi, saat sesi kedua dimulai, Presiden Erdogan memberikan pidato terlebih dahulu, sambil meminta maaf karena harus segera meninggalkan lokasi pleno,” ujar Teddy.

Presiden Erdogan meminta pertukaran giliran berbicara karena sesi pertama KTT tersebut berlangsung lebih lama dari jadwal yang ditentukan.

Padahal, masing-masing Presiden sudah memiliki agendanya masing-masing di luar KTT D-8.

“Sesi pertama sendiri molor dari jadwal, yang seharusnya selesai pukul 12.30 waktu setempat (WS), namun baru berakhir pada pukul 14.30. Akhirnya, sesi kedua baru bisa dimulai sekitar pukul 15.00,” ujarnya.

“Sebelum sesi kedua dimulai, Presiden Prabowo dan Presiden Erdogan menikmati makan siang bersama, duduk berdampingan,” ucap Mayor Teddy lebih lanjut.

Penjelasan Turki

Duta Besar Turki untuk Indonesia, Talip Küçükcan, turut mengungkapkan bahwasanya Presiden Erdogan tidak melakukan walk-out di tengah-tengah pidato Presiden Prabowo.

Menurutnya, apa yang dilakukan Presiden Erdogan bukan walk-out, melainkan keluar ruangan untuk menghadiri pertemuan bilateral.

“Presiden Erdogan meninggalkan ruangan untuk menghadiri pertemuan bilateral, bukan walk-out,” ujarnya pada Senin (23/12/2024), seperti dikutip dari Kompas.com.

Talip juga mengonfirmasi bahwa penjelasan yang diberikan oleh Kementerian Luar Negeri RI terkait insiden tersebut sudah tepat.

Kementerian Luar Negeri RI sebelumnya menjelaskan bahwa keluar-masuknya kepala delegasi dalam forum internasional, seperti KTT D-8, adalah hal yang biasa.

Setiap kepala delegasi memiliki kebebasan untuk menentukan kapan mereka hadir atau meninggalkan ruangan, sementara pertemuan bilateral sering berlangsung bersamaan dengan sesi utama.

Kedutaan Besar Turki dan Kementerian Luar Negeri RI juga mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam menerima informasi yang beredar di media sosial tanpa adanya klarifikasi resmi.

“Hubungan Indonesia dan Turki tetap terjalin dengan sangat harmonis, dan pertemuan bilateral antara kedua pemimpin di KTT D-8 berlangsung dalam suasana yang sangat akrab,” tegasnya.

Keterangan Kementerian Luar Negeri RI

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI sekaligus Kepala Biro Dukungan Strategis Pimpinan Kemlu, Rolliansyah Soemirat, menjelaskan bahwa tindakan yang dilakukan oleh Presiden Erdogan adalah hal yang biasa.

Hal ini dikarenakan setiap ketua delegasi negara yang hadir dalam ruangan KTT D-8 memiliki berbagai agenda pertemuan paralel yang harus dihadiri.

“Merupakan hal yang biasa bagi para ketua delegasi untuk mengikuti berbagai pertemuan paralel selama acara internasional, termasuk melakukan pertemuan bilateral dengan ketua delegasi lain di ruang terpisah,” papar Roy dalam keterangan tertulisnya pada Senin (23/12/2024).

“Maka dari itu, keluar-masuk ruangan dalam pertemuan internasional, seperti yang biasa terjadi di forum PBB, adalah hal yang wajar,” tambahnya.

Delegasi Indonesia juga tidak dapat memberikan tanggapan terkait jadwal ketua delegasi negara lain yang tidak hadir atau meninggalkan ruangan selama pertemuan utama berlangsung.

Namun, Kemlu RI menegaskan bahwa hubungan antara Presiden Erdogan dan Presiden Prabowo tetap sangat akrab.

“Khususnya dengan Presiden Turki, kami ingin menegaskan bahwa kedua pemimpin menjalani pertemuan dalam suasana yang sangat akrab, termasuk ketika mereka duduk berdampingan selama acara makan siang setelah KTT selesai,” terang Kemlu RI. (apr/naf)

Facebook Comments Box

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Pimpin Konsolidasi Internal PDI Perjuangan Kaltim, Hasto Kristiyanto: Kembalikan Kalimantan Sebagai Paru-Paru Dunia

2 February 2026 - 10:24 WIB

PDI Perjuangan Kaltim Tegas Tolak Pilkada Lewat DPRD

14 January 2026 - 11:38 WIB

Ananda Emira Moeis Menilai Rakernas PDI Perjuangan Jadi Momentum Konsolidasi, Refleksi Sejarah, dan Penegasan Sikap Politik

12 January 2026 - 15:57 WIB

Refleksi HUT PDI Perjuangan, Iswandi Sebut Partai Tetap Kokoh Usai Pemilu 2024

11 January 2026 - 15:42 WIB

HUT PDI ke-53 di Kaltim, Perkuat Semangat Kebersamaan dan Kepedulian Sosial

11 January 2026 - 04:26 WIB

Trending on Politik