Menu

Mode Gelap

Politik

PDI Perjuangan Kaltim Tegas Tolak Pilkada Lewat DPRD

badge-check


					Sekretaris DPD PDI Perjuangan Kaltim, Ananda emira Moeis Perbesar

Sekretaris DPD PDI Perjuangan Kaltim, Ananda emira Moeis

SAMARINDA – PDI Perjuangan Kaltim secara tegas menolak Wacana pemilihan kepala daerah melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Hal ini diungkapkan Sekretaris DPD PDI Perjuangan Kaltim, Ananda emira Moeis. Dia bilang secara tegas PDI Perjuangan menolak dengan tetap mengutamakan pilkada langsung sebagai pilihan rakyat.

“Ini adalah keputusan resmi partai yang juga menjadi keputusan dari hasil rapat kerja nasional, pertama yang akan diperjuangkan di tahun 2026 ini,”katanya dikonfirmasi, Rabu (14/01/2026).

Seperti diketahui, wacana ini kembali menguat di tengah dinamika politik nasional dan daerah, isu ini hadir bak perdebatan lama yang kembali disulut api. Antara efisiensi anggaran dan kemurnian demokrasi. PDI Perjuangan adalah partai hingga kini gencar menolak hal tersebut.

Nanda begitu ia disapa mengungkapkan, partainya menolak karena komitmen untuk menjaga semangat Reformasi 1998 dan menghormati konstitusi. Ia menegaskan bahwa hak memilih pemimpin daerah secara langsung adalah hak demokratis rakyat yang tidak boleh dikurangi.

“Kami tetap menginginkan pemilihan terbuka yang dipilih langsung oleh rakyat. Hak demokrasinya jangan di janggu. Apalagi itu sebagai hak Konstitusi. Keputusan Mahkamah Konstitusi Pemilihan kepala daerah secara langsung kan itu. Kita juga tidak mau melawan konstitusi juga. Gitu!” bebernya.

Wacana pemilihan lewat DPRD ini mencuat karena dinilai lebih hemat anggaran. Pasalnya akan mengurangi beban ongkos besar untuk logistik Pemilu. Namun bagi Nanda dapat dilakukan dengan perbaikan sistem dan tanpa mengebiri hak masyarakat. Belum lagi pilkada langsung merupakan hasil perjuangan panjang reformasi.

Menurut Nanda hak rakyat untuk memilih pemimpinnya secara langsung dianggap sebagai roh demokrasi yang tak boleh dikorbankan.

“Kita lebih baik pikirkan gimana caranya pemilihan pemilu kita ini bisa berlangsung Luber dan Jurdil (Langsung, Umum, Bebas, Rahasia, Jujur dan Adil) ya kan? Jurdil,”tegasnya.

Saran dia selanjutnya adalah penguatan pendidikan politik dan kesadaran politik kepada masyarakat. “Seperti lewat pendidikan wawasan kebangsaan atau pendidikan politik, dan juga kan kalau dibilang oh biayanya tinggi money politik kan seperti itu ya. Ya salah satu satunya sadar politik, seperti itu dan penegakan hukumnya yang harus dimaksimalkan,”terangnya lagi.

“Kita punya lembaga Bawaslu. Bawaslu yang betul-betul harus bekerja maksimal dalam menjalankan tugas dan fungsinya, dia kan pengawas pemilu,”pungkasnya.

Baginya, inti persoalan ada pada pemberdayaan kesadaran masyarakat dan penegakan aturan, bukan pada metode pemilihannya.Dengan pernyataan ini, PDI Perjuangan Kaltim secara jelas memposisikan diri sebagai pihak yang berpegang pada prinsip kedaulatan rakyat penuh, menolak segala bentuk wacana yang dinilai dapat mengurangi hak pilih langsung masyarakat.

 

(Fran)

Facebook Comments Box
Read More

Ananda Emira Moeis Menilai Rakernas PDI Perjuangan Jadi Momentum Konsolidasi, Refleksi Sejarah, dan Penegasan Sikap Politik

12 January 2026 - 15:57 WIB

Refleksi HUT PDI Perjuangan, Iswandi Sebut Partai Tetap Kokoh Usai Pemilu 2024

11 January 2026 - 15:42 WIB

HUT PDI ke-53 di Kaltim, Perkuat Semangat Kebersamaan dan Kepedulian Sosial

11 January 2026 - 04:26 WIB

Fenomena Pindah Partai Kepala Daerah: Tradisi, Kepentingan Politik Hingga Politik Anggaran

26 November 2025 - 08:39 WIB

PDI Perjuangan Kukar Ragukan Isu Kepindahan Bupati Kutai Kartanegara

24 November 2025 - 03:32 WIB

Trending on Politik